Gadis Menangis Mewariskan Luka

Rifin Raditya
Chapter #28

Bab 28

Wonosobo - Jakarta , 2012

Iman semakin jarang mengirim uang selepas perceraian itu. Kadang dua bulan berlalu tanpa kabar, tanpa kiriman, tanpa suara. Lelaki itu seperti hilang ditelan Jakarta, menyisakan nama yang sesekali muncul dari cerita orang-orang. Fatimah mula-mula masih mencoba percaya keadaan akan membaik, bahwa suatu hari hidup mereka akan kembali longgar. Namun waktu berjalan seperti tali yang terus ditarik, makin lama makin menyesakkan dadanya.

Mula-mula ia masih menyimpan keyakinan lama yang selalu dipeluknya sejak muda: anak-anaknya mesti sekolah setinggi mungkin, mesti punya hidup yang lebih baik daripada dirinya. Namun keyakinan itu perlahan aus oleh tagihan, harga beras, uang seragam, dan tubuhnya sendiri yang mulai cepat lelah. Kadang ia tertidur di depan mesin jahit dengan tangan masih menggenggam kain pesanan orang.

Reymon menyaksikan semua itu diam-diam. Anak itu baru duduk di kelas satu SMA, namun wajahnya mulai dipenuhi letih orang dewasa. Ia tetap berangkat sekolah setiap pagi, tetap duduk di bangku depan, tetap mengerjakan tugas-tugasnya rapi seperti biasa. Bahkan pada semester pertama, namanya berhasil berada di urutan paling atas kelas. Peringkat satu. Sesuatu yang dulu selalu diinginkan Fatimah dengan nyaris putus asa.nNamun angka-angka itu agaknya tak lagi terasa sepenting dulu.

Suatu malam, selepas suara mesin jahit berhenti, Reymon duduk di depan ibunya yang sedang melipat pakaian pesanan. Lampu ruang depan menggantung redup, menarik bayangan panjang di dinding papan rumah mereka.

“Aku mau berhenti sekolah,” katanya pelan.

Fatimah tidak langsung mengangkat kepala. Tangannya berhenti sebentar di atas tumpukan kain, lalu bergerak lagi perlahan, seolah kalimat itu telah lama menunggu waktunya untuk keluar.

“Aku mau kerja aja.”

Lihat selengkapnya