Wonosobo, 2016
Menjelang kelulusan Reynal, rumah itu kembali dipenuhi pembicaraan soal sekolah. Bukan lagi tentang Reymon yang gagal melanjutkan pendidikan, melainkan tentang harapan terakhir yang masih tersisa di keluarga mereka. Fatimah agaknya tak ingin kejadian serupa terulang pada anak bungsunya. Sebab itu, urusan sekolah Reynal dipikirkannya jauh-jauh hari, bahkan ketika penghasilannya sendiri sering tak cukup untuk membeli beras sampai akhir pekan.
Sore itu udara kampung turun pelan bersama sisa hujan. Bau tanah basah masuk dari celah-celah dinding papan. Fatimah duduk di ruang depan sambil melipat pakaian jahitan orang, sementara Reynal jongkok dekat pintu, membersihkan sepatu sekolahnya yang mulai aus di bagian depan. Suara kain dilipat dan sikat sepatu bergesek terdengar kecil di tengah rumah yang sepi.
“SMA kalau bisa sekolah di kota ya,” ujar Fatimah tiba-tiba, matanya masih tertuju pada tumpukan pakaian. “SMA Negeri di Wonosobo itu. Katanya anak-anaknya pintar semua.”
Reynal mengangkat kepala perlahan. “Nggak yang dekat-dekat aja, Bu?” tanyanya hati-hati. “Nggak perlu bayar kos segala.”
Fatimah mendecak. “Di SMA dekat sini mana bagus,” katanya. “Muridnya aja cuma belasan.”
Reynal kembali diam. Tangannya sibuk membersihkan noda tanah di sepatu, meski bagian itu sebenarnya sudah bersih sejak tadi. Anak itu paham benar bahwa pembicaraan tentang sekolah hampir selalu berarti pembicaraan tentang uang, dan uang di rumah mereka tak pernah benar-benar cukup.
Namun Fatimah seolah menahan dirinya sendiri agar jangan ikut goyah. “Masalah biaya nggak usah dipikirkan,” ucapnya lagi, kali ini lebih lirih namun tegas. “Tugasmu belajar.”
Lalu ia berhenti melipat pakaian. Kepalanya terangkat sedikit menatap Reynal. “Nanti kutanya masmu. Pasti dia bisa bantu kok. Ini juga demi masa depanmu.”
Jakarta, 2016