Jakarta, 2016
Malam itu rumah makan mulai lengang. Piring-piring kotor telah ditumpuk di dekat bak cuci. Kursi-kursi plastik yang sejak sore diduduki pelanggan kini kembali kosong. Hanya suara kipas angin tua yang berputar tersendat di langit-langit, beradu dengan dengung kendaraan dari jalan raya.
Reymon duduk di bangku panjang dekat dapur belakang. Seragam kerjanya masih melekat di badan, basah oleh keringat dan uap masakan. Di tangannya ada secarik kertas berisi catatan pengeluaran yang sejak tadi tak benar-benar ia baca.
Fida datang membawa dua gelas teh hangat. Ia meletakkan salah satunya di depan Reymon.
"Masih mikirin telepon dari rumah?" tanyanya.
Reymon mengangguk kecil.
Fida ikut duduk. Dari tempat mereka, terlihat lampu-lampu kendaraan melintas di jalan besar, seperti kunang-kunang yang kehilangan arah.
"Tadi ibumu minta bantuan biaya sekolah adikmu, kan?"
"Hm."
"Kalau nggak sanggup, ya bilang aja nggak sanggup."
Reymon tersenyum tipis.
Fida melanjutkan, "Serius. Itu bukan tanggung jawabmu sepenuhnya. Kamu juga punya hidup sendiri. Punya masa depan sendiri."
Kata-kata itu menggantung di udara beberapa saat. Reymon menunduk, mengamati permukaan teh yang perlahan mengeluarkan uap.
Di kampung sana, pikirnya, mungkin ibunya sedang menjahit di bawah lampu redup. Kain-kain pesanan menumpuk di sudut rumah. Mesin jahit tua berbunyi sampai larut malam. Sementara Reynal sebentar lagi lulus SMP, membawa nilai yang cukup baik untuk membuat Fatimah kembali bermimpi.
"Benar sih," kata Reymon akhirnya. Ia mengusap tengkuknya pelan. "Tapi kayaknya sampai SMA ini aku ikhlas."
Fida menoleh. "Setelahnya?"
"Setelahnya biar aku ngurusin hidupku sendiri." Ia berhenti sebentar, mencari kalimat yang tepat. "Soalnya aku tahu ibuku."
Untuk pertama kalinya malam itu ia tersenyum, meski senyum itu lebih mirip rasa lelah yang sedang berusaha berdamai dengan dirinya sendiri.
"Dari dulu dia pengin anaknya jadi seseorang."
Di luar, sebuah truk kontainer melintas, mengguncang kaca-kaca rumah makan. Suaranya menggeram panjang sebelum hilang ke kejauhan.
Fida tidak langsung merespon. Ia memandang Reymon beberapa saat, seperti sedang melihat sesuatu yang tidak disadari pemuda itu sendiri. Kadang-kadang, pikirnya, ada orang yang terlalu lama hidup sebagai sandaran sampai lupa bahwa dirinya juga sedang kelelahan.
Sementara Reymon kembali menatap kertas pengeluarannya. Angka-angka di sana tidak pernah benar-benar cocok. Gaji yang ia terima selalu memiliki tujuan lebih dulu sebelum sempat menjadi miliknya sendiri.
***
Menjelang magrib, ketika para pekerja rumah makan mulai bergantian mandi dan bersiap untuk jam makan malam, seseorang mengetuk pintu mess Reymon.