Gadis Menangis Mewariskan Luka

Rifin Raditya
Chapter #31

Bab 31

Wonosobo, 2018

Tahun-tahun berlalu tanpa banyak perubahan bagi Reymon. Gajinya datang setiap akhir bulan, lalu pergi lagi sebelum sempat lama tinggal di tangannya. Sebagian besar dikirim pulang ke Langseng, untuk membantu kebutuhan rumah dan biaya sekolah Reynal. Yang tersisa cukup untuk makan, membeli sabun, sesekali mengganti pakaian yang mulai tipis, lalu habis.

Maka ketika musim mudik tiba dan para perantau kembali ke kampung halaman, Reymon selalu datang dengan bawaan yang ringan. Tidak ada sepeda motor baru yang bisa diparkir di halaman. Tidak ada telepon genggam mahal yang bisa dipamerkan kepada teman-teman lama. Bahkan tas yang dibawanya masih tas yang sama seperti tahun sebelumnya, hanya resletingnya kini lebih sering macet.

Orang-orang seusianya tampak bergerak lebih cepat daripada dirinya. Mereka pulang dengan kendaraan yang mengilap, mengenakan jam tangan baru, atau sibuk membicarakan cicilan rumah dan rencana pernikahan. Di warung kopi, nama mereka disebut dengan nada kagum, sebagaimana orang kampung selalu membicarakan mereka yang dianggap berhasil menaklukkan kota.

Reymon biasanya hanya duduk mendengarkan. Ia tidak iri, atau setidaknya berusaha meyakinkan dirinya demikian.

Tetapi ada kalanya ia memandangi pantulan wajahnya sendiri di kaca warung dan mendapati seorang pemuda yang terlihat lebih tua daripada usianya. Kulit wajahnya kusam terbakar matahari dan asap dapur rumah makan. Lingkar gelap di bawah mata tidak benar-benar hilang meski ia sudah tidur cukup selama perjalanan mudik. Uang yang dimilikinya terlalu berharga untuk dihabiskan pada krim wajah atau perawatan yang katanya bisa membuat seseorang tampak segar.

Lagipula, yang membuat wajahnya tampak letih mungkin bukan semata debu Jakarta. Beban juga meninggalkan bekas. Ia sudah terlalu lama memikirkan tagihan, biaya sekolah, kiriman uang, dan masa depan orang lain, sampai-sampai jarang memikirkan dirinya sendiri. Ada hari-hari ketika ia merasa hidupnya berjalan seperti gerobak yang terus didorong menanjak. Bukan karena ia tahu di puncak ada sesuatu yang menunggu, melainkan karena jika berhenti mendorong, semuanya akan menggelinding jatuh ke bawah.

Lebaran tahun itu kampung terasa lebih ramai dari biasanya. Anak-anak berlarian membawa mercon banting. Para perantau memenuhi teras rumah dan warung kopi. Malam-malam dipenuhi suara petasan dan obrolan yang tak kunjung habis.

Dan seperti setiap tahun, para gadis kampung tampak berubah. Sebagian berubah sedikit. Sebagian lagi nyaris tak bisa dikenali. Di antara mereka ada Jihan. Reymon mengenalnya sebagai adik kelas yang dulu lebih sering menundukkan kepala ketika berpapasan di sekolah. Tidak ada sesuatu yang istimewa yang ia ingat tentang gadis itu selain suaranya yang pelan dan buku-buku yang hampir selalu dibawanya ke mana-mana.

Namun waktu rupanya bekerja diam-diam pada manusia. Suatu sore ia melihat Jihan keluar dari sebuah toko alat tulis di dekat kantor kelurahan. Angin menggerakkan ujung jilbabnya. Di tangannya ada map berisi berkas pendaftaran. Belakangan Reymon mendengar bahwa gadis itu sedang bersiap melanjutkan kuliah. Entah mengapa kabar itu tinggal lebih lama di kepalanya daripada yang seharusnya.

Malam harinya, ketika suara takbir mulai terdengar dari surau, ia masih memikirkan Jihan. Entah apa yang sedang dilanda Reymon hingga hatinya berbunga-bunga, tapi diam-diam ia menyukainya.

Namun perasaan itu segera disusul keraguan yang lebih besar. Apa yang bisa ia tawarkan? Seorang lelaki yang bahkan tidak sempat menyelesaikan sekolahnya sendiri. Seorang perantau yang pulang tanpa kendaraan, tanpa tabungan berarti, dengan wajah kusam dan tubuh yang selalu terlihat kelelahan.

Lihat selengkapnya