Jakarta, 2019
Reymon tidak pernah benar-benar memikirkan pernikahan sebagai sesuatu yang harus dikejar. Baginya, hidup sudah cukup rumit tanpa perlu menambah beban baru yang belum tentu membawa kebahagiaan. Ada terlalu banyak contoh di hadapannya yang membuat keyakinan itu tumbuh pelan-pelan.
Ia pernah menyaksikan bagaimana dua orang yang awalnya saling mengasihi bisa berubah menjadi dua orang asing yang saling melukai. Ia pernah melihat rumah yang dibangun dengan harapan justru menjadi tempat lahirnya ketakutan. Dan lebih dari itu, ia pernah menjadi anak kecil yang berdiri di tengah reruntuhan semua itu.
Karena itulah, ketika orang-orang seusianya mulai sibuk membicarakan pasangan hidup, cicilan rumah, atau nama anak yang kelak akan mereka berikan, Reymon justru lebih sering memikirkan hal-hal lain. Pekerjaan. Uang kiriman untuk kampung. Masa depan Reynal. Atau sekadar bagaimana caranya bertahan sampai akhir bulan.
Pernikahan, dalam bayangannya, bukan tujuan. Ia hanyalah kemungkinan.
Kalaupun suatu hari nanti ia menikah, Reymon sering berpikir bahwa mungkin ia tidak ingin punya anak. Pikiran itu terdengar aneh bagi sebagian orang. Namun baginya, ada ketakutan yang sulit dijelaskan. Ketakutan bahwa dirinya akan mengulangi kesalahan yang sama. Bahwa luka yang diwariskan kepadanya akan kembali diwariskan kepada orang lain.
Ia tidak yakin sanggup memikul tanggung jawab sebesar itu. Lagi pula, hidupnya sendiri belum benar-benar tertata.
Ada hari-hari ketika ia merasa baik-baik saja. Ada pula hari ketika masa lalu muncul tanpa diundang, datang seperti tamu yang tahu persis letak pintu masuk. Sebuah suara keras. Pertengkaran pasangan di jalan. Atau sekadar percakapan tentang keluarga yang bahagia. Hal-hal sederhana itu kadang cukup untuk membangunkan ingatan yang selama ini ia kubur rapat-rapat.
Maka bertahun-tahun Reymon hidup dengan keyakinan bahwa dirinya tidak membutuhkan cinta. Atau setidaknya, ia berusaha mempercayai hal itu.