Wonosobo, 2019
Lebaran tahun itu tidak membawa banyak perubahan bagi Reymon. Ia masih pulang dengan tas yang sama, turun dari bus yang sama, lalu berjalan kaki menyusuri jalan desa yang telah dikenalnya sejak kecil. Para perantau lain datang membawa hasil jerih payah mereka, Reymon hanya membawa dirinya sendiri.
Wajahnya tampak lebih kusam dibanding tahun sebelumnya. Lingkar hitam di bawah matanya semakin jelas. Kulitnya terlihat lelah, seperti tidak pernah benar-benar beristirahat. Sebagian besar penghasilannya habis untuk biaya hidup di Jakarta dan kiriman ke rumah. Tak banyak yang tersisa untuk keperluan lain, apalagi memikirkan perawatan diri.
Namun semua itu tidak terlalu mengganggunya. Sampai ia melihat Jihan berjalan bersama Didik. Mereka melintas di jalan desa menjelang sore. Didik berjalan santai di sampingnya, sesekali menundukkan kepala ketika berbicara. Jihan tertawa beberapa kali. Angin menggerakkan ujung kerudungnya. Tidak ada sesuatu yang istimewa pada pemandangan itu. Tetapi Reymon tetap memandanginya sampai keduanya menghilang di tikungan.
Malamnya ia lebih banyak berada di kamar.
Fatimah menemukan anak sulungnya duduk di tepi ranjang dengan mata sembap. "Kenapa, Mon?" tanyanya.
Reymon mula-mula menggeleng. Namun setelah didesak beberapa kali, ia akhirnya menceritakan semuanya. Fatimah mendengarkan tanpa banyak menyela.
"Perempuan itu banyak," kata Fatimah setelah Reymon selesai bicara. "Nggak cuma satu."
Reymon diam.
"Cari yang mau sama kamu apa adanya."
Nasihat itu terdengar sederhana. Terlalu sederhana, barangkali. Sebab jika hati bisa diarahkan sesuka hati, manusia tidak perlu bersusah payah melupakan siapa pun.
Beberapa hari kemudian persoalan lain muncul.
Pagi itu Fatimah sedang memotong sayuran di dapur ketika ia menyebut nama Reynal. "Dia masih pengin kuliah," katanya.
Reymon yang sedang meminum kopi hanya mengangguk kecil.
"Kalau bisa dibantu, bantu ya."