Jakarta, 2024
Pengadilan selalu menyimpan kesibukan yang aneh. Orang-orang datang dengan map-map tebal dijepit di dada, duduk di bangku-bangku panjang yang mulai mengilap karena terlalu sering diduduki, lalu bangkit ketika namanya dipanggil. Sebagian keluar dengan wajah datar, sebagian lagi dengan mata yang merah. Sulit menebak mana yang baru kehilangan sesuatu dan mana yang baru berhasil mendapatkannya.
Di salah satu bangku dekat dinding, Reymon duduk bersama Juleha.
Pendingin ruangan bekerja tanpa kenal lelah, tetapi hawa pengap tetap terasa, berasal dari orang-orang yang memenuhi lorong sempit itu, dari kecemasan yang dibawa masing-masing, bercampur dengan bau kertas dan kopi yang mulai dingin di gelas plastik.
Juleha duduk tanpa banyak bergerak. Kedua tangannya saling menggenggam di atas pangkuan, seolah sedang menjaga sesuatu agar tidak terlepas. Reymon memperhatikannya diam-diam. Sulit mempercayai perempuan yang kini duduk begitu tenang adalah orang yang beberapa bulan lalu datang ke kontrakannya dengan tubuh gemetar dan luka memar di wajahnya.
"Kamu yakin?" tanya Reymon.
Juleha hanya mengangguk.
Tak lama kemudian Adam muncul dari ujung lorong. Langkahnya pelan. Tubuhnya tampak lebih kurus daripada terakhir kali Reymon melihatnya. Wajah yang dulu mudah memancarkan kemarahan itu kini terlihat kosong.
Tatapan Adam berhenti pada Juleha. Perempuan itu membalas tatapan tersebut tanpa menghindar. Tak ada lagi kegelisahan yang dahulu selalu tampak setiap kali lelaki itu berada di dekatnya. Ketakutan rupanya memiliki umur, jika terlalu lama dipaksa hidup, pada suatu hari ia akan mati sendiri karena kelelahan.