Jakarta, 2020
Jakarta menerima Reymon sebagaimana selalu menerima orang-orang yang datang membawa hidupnya masing-masing. Jalan raya tetap dipenuhi kendaraan yang saling menggeram. Kereta tetap menelan ribuan tubuh setiap pagi, lalu memuntahkannya kembali ketika matahari mulai tenggelam. Tak seorang pun mengetahui bahwa di antara wajah-wajah letih itu ada seorang laki-laki yang, untuk pertama kalinya sejak bekerja, tidak mengirimkan sepeser pun uang ke kampung.
Gajinya masuk seperti biasa. Angka di layar telepon genggamnya bertambah beberapa digit, lalu berhenti di sana. Selama bertahun-tahun uang itu hanya singgah sebentar, seolah rekeningnya tak lebih dari ruang tunggu sebelum berangkat menuju rumah ibunya. Kini uang itu menetap. Diam. Utuh. Reymon memandangi angka tersebut cukup lama, seperti orang yang baru menyadari bahwa hidupnya ternyata masih menyisakan sesuatu untuk dirinya sendiri.
Beberapa hari kemudian Fatimah menelepon. Nada sambung itu berdering sampai habis. Lalu datang lagi pada hari berikutnya. Sesudahnya tinggal pesan-pesan pendek yang tidak pernah dibalas.
Ia tidak memblokir nomor itu. Tidak pula menghapusnya. Nomor tersebut tetap tersimpan, sebagaimana bekas luka yang telah mengering namun selalu membuat orang enggan menyentuhnya.
Hubungannya dengan kampung tidak benar-benar putus. Siti sesekali mengabarkan keadaan rumah. Fikri kadang menelepon, membicarakan hal-hal yang tak penting, seolah percakapan remeh lebih mudah dipertahankan daripada percakapan yang sungguh-sungguh.
Dari merekalah Reymon mengetahui bahwa Fatimah masih berjualan seperti biasa. Reynal masih menganggur sejak lulus sekolah. Kabar-kabar itu datang kepadanya seperti suara radio dari rumah tetangga, cukup jelas untuk didengar, tetapi terlalu jauh untuk membuatnya merasa ikut berada di dalamnya.
Sebulan berlalu.
Tabungannya perlahan bertambah. Untuk pertama kalinya ia membuka iklan motor bekas bukan sekadar untuk bermimpi. Ia mulai menghitung-hitung gaji, menakar cicilan, membayangkan dirinya pulang kerja tanpa harus berdesakan di kereta.
Namun setiap kali bayangan itu mulai terasa mungkin, selalu muncul suara lain yang lebih keras. Kamu lama-lama sama saja seperti bapakmu. Kalimat itu datang tanpa diundang. Ia tak pernah benar-benar pergi. Menempel di kepalanya seperti paku yang dipukul terlalu dalam hingga mustahil dicabut tanpa merusak seluruh kayunya.
Suatu sore, selepas kerja, Reymon dan Fida duduk di kantin karyawan yang mulai sepi. Hujan turun tipis di luar. Orang-orang pulang satu per satu. Kursi-kursi kosong semakin banyak. Perempuan itu memperhatikan Reymon yang sejak tadi hanya mengaduk kopi tanpa meminumnya.