Jakarta, 2025
Malam kembali menempatkan mereka di balkon sempit depan kontrakan, tempat yang entah sejak kapan menjadi semacam ruang perundingan bagi dua orang yang perlahan terbiasa membagi kesunyian. Tidak turun hujan sebagaimana beberapa malam sebelumnya. Udara bergerak pelan membawa bunyi kendaraan dari jalan besar yang tak pernah benar-benar tidur, sementara lampu-lampu rumah di seberang berdiri tanpa pernah peduli kepada kehidupan siapa pun yang sedang berubah.
Juleha menopang kedua lengannya di pagar besi. Reymon berdiri di sampingnya, lebih banyak memandang jalan daripada perempuan itu. Ada sesuatu yang sejak tadi hendak keluar dari mulutnya, tetapi berkali-kali seperti ditarik kembali oleh keraguannya sendiri.
"Aku punya tabungan."
Juleha menoleh. "Berapa?"
"Sekitar tiga puluh juta."
Perempuan itu hanya mengangguk kecil, menunggu kelanjutan yang tak kunjung datang.
"Lalu?"
Reymon mengembuskan napas pendek, seperti seseorang yang akhirnya memutuskan melompat setelah terlalu lama berdiri di tepi. "Selama ini kita cuma jadi tetangga." Ia tersenyum tipis, gugup. "Aku pikir... mungkin udah waktunya hubungan kita lebih dari itu."
Juleha tetap memandangnya, menunggu.
"Aku tahu aku nggak bisa ngasih hidup yang sempurna." Reymon menarik napas sekali lagi. "Tapi aku ngerasa kita sama-sama tahu rasanya berjuang sendirian. Nggak ada orang yang benar-benar sempurna. Mungkin... yang bisa kita lakuin cuma saling nemenin." Ia menoleh, menatap Juleha untuk pertama kalinya malam itu. "Kamu mau nikah sama aku?"
Kalimat itu jatuh begitu saja. Tidak didahului rayuan, tidak pula dihias janji yang muluk-muluk. Barangkali justru karena kesederhanaannya, kata-kata itu terasa lebih berat daripada segala ucapan yang telah dipersiapkan berhari-hari.
Beberapa saat mereka hanya mendengar suara kendaraan yang melintas.