Wonosobo, 2026
Rumah Bibi Sarmi kembali dipenuhi orang-orang menjelang berakhirnya Lebaran. Tikar digelar memenuhi ruang tengah. Gelas-gelas teh yang semula masih mengepul perlahan berpindah tangan, lalu diletakkan di sembarang tempat ketika percakapan menjadi lebih menarik daripada minuman itu sendiri. Dari halaman depan terdengar suara anak-anak berlarian, saling mengejar dengan kaki yang mengangkat debu tipis halaman, sementara orang-orang dewasa membiarkan mereka bermain sejauh suara tangis belum terdengar.
Di sudut ruangan Syarif duduk memangku anaknya. Sesekali ia mengusap punggung bayi itu perlahan, membetulkan kepala kecil yang hampir terkulai ke bahunya. Sulit dipercaya lelaki yang dahulu paling sering pulang dengan lutut berdarah karena jatuh dari motor akibat ugal-ugalan kini bergerak begitu hati-hati, seolah sedikit saja lengah tubuh kecil itu akan pecah seperti gelas tipis.
Reymon memandanginya cukup lama. Barangkali memang beginilah cara waktu bekerja. Ia tidak mengubah wajah seseorang terlalu cepat, tetapi diam-diam mengajari tangan mereka melakukan hal-hal yang tak pernah dibayangkan sebelumnya.
Di samping Reymon, Juleha duduk bersandar pada tiang kayu rumah. Ia lebih banyak mendengar daripada berbicara. Kadang mengangguk, kadang tersenyum kecil ketika percakapan berganti arah. Tahun lalu perempuan itu masih tampak seperti tamu yang kebetulan ikut datang. Kini ia telah duduk sebagaimana anggota keluarga lainnya, tanpa lagi terlihat canggung memilih tempat atau menunggu dipersilakan mengambil kue.
Namun keluarga, sebagaimana keluarga pada umumnya, tak pernah kekurangan pertanyaan.
"Mon." Siti meletakkan gelas tehnya. "Kalian belum kepikiran punya anak?"
Percakapan di ruangan itu tidak benar-benar berhenti, hanya melambat. Beberapa kepala menoleh sebentar sebelum kembali berpura-pura sibuk dengan makanannya masing-masing. Bahkan Syarif sempat mengangkat wajah dari anaknya, lalu kembali menunduk ketika bayi itu bergerak kecil dalam gendongannya.
Fikri terkekeh. "Sudah kuduga bakal ada yang nanya."
Siti tersenyum. "Ya wajar, kan. Sudah nikah."
Reymon tidak segera menjawab. Pandangannya melayang ke halaman, tempat anak-anak masih berteriak memanggil satu sama lain. Suara mereka sesekali tenggelam oleh deru sepeda motor yang melintas di jalan depan rumah.