Gak Apa-apa (GPP)

Anoi Syahputra
Chapter #4

03. Terserah Yang Bukan Terserah

Malam itu, gue punya rencana untuk ngajak Naya liburan besok. Mumpung gue libur kerja.

Bukan liburan mewah—karena gue bukan sultan. Tapi seenggaknya, cukup buat mendinginkan kepala, menyeimbangkan emosi, dan mencegah rumah tangga gue berubah jadi episode Ikatan Batin dengan Bantal dan Sofa.

Gue tarik napas pelan sebelum mulai nanya.

Karena gue tau, nanya ke Naya itu butuh teknik. Suara lembut, pilihan kata harus hati-hati, dan ekspresi wajah tenang ala negosiator yang lagi menyelamatkan sandera.(Bukan Sandera Dewi ya.).

“Sayang…” gue mulai, pelan. “Besok kan aku libur. Kamu mau liburan ke mana?”

Dia cuma ngelirik sebentar, lalu balik scroll online shop di HPnya. Fokusnya bukan ke gue, tapi ke diskon yang bakal mulai di jam 00.00 WIB.

“Terserah…” katanya.

Gue langsung aktifin mode siaga.

Karena kata terserah dari perempuan itu bukan sebuah jawaban—tapi peringatan.

Sama kayak rambu jalan yang artinya: Berhenti. Evaluasi. Jangan asal pilih.

Oke. Gue mulai opsi pertama. “Kalau ke pantai, gimana?”

Dia langsung manyun. “Duh… panas. Nanti kulit aku gosong. Kamu tega?”

Gue coba opsi kedua. “Kalau ke taman kota?”

“Masa liburan cuma ke taman kota? Gak kreatif banget, Sayang.”

Gue masih coba sabar.

“Ke Mall?”

“Mall lagi, mall lagi… bosen tau.”

Di titik ini gue sadar. Apapun yang gue tanya ke dia, jawabannya akan tetap menjadi ujian buat gue.

Akhirnya gue keluarin opsi terakhir.

“Oke. Gimana kalau tempat wisata keluarga. Yang ada danaunya, wahana, banyak makanan. Pokoknya lengkap.”

Dia berhenti scroll. Mikir sebentar.

“Hmm… ya udah. Tapi cari yang gak rame ya.”

Gue menghela napas.

Dalam hati gue cuma bisa jawab: Sayang, wisata keluarga yang sepi tuh gak ada. Kalau mau sepi, itu di kuburan.

Lihat selengkapnya