Jam menunjukkan 07.45.
Gue berdiri di depan kaca kamar mandi kantor, ngeliatin pantulan diri gue yang… yah, layak masuk dokumentasi Before–After Life Crisis.
Lingkar mata gue item. Pinggirannya kayak eyeliner gagal. Mirip panda yang baru kehilangan bambu favoritnya.
Hari ini hari Rabu. Tapi mood gue? Kelabu.
Bahkan kopi kantor rasanya kayak air genangan hujan. Pahit, hambar, dan bikin nyesek tanpa sebab yang jelas.
Satu-satunya hal yang bikin gue bertahan pagi ini cuma satu, notifikasi WhatsApp dari Naya. Belum sempet gue buka, datang suara yang hobi merusak momen muncul.
“Bro, muka lo kenapa lecek banget?”
Itu Rendi—temen sekantor gue, yang tiap pagi semangatnya kayak habis disuntik motivasi hidup premium. Selalu ceria. Gak pernah keliatan stres. Mungkin karena dia belum punya cicilan rumah, atau mentalnya udah rusak dari awal.
“Kurang tidur,” jawab gue singkat.
“Kok bisa? Lo sakit?”
“Enggak. Istri gue kalau tidur hobinya nendang kayak atlet taekwondo. Gue gak nemu posisi aman.”
Rendi ngakak. Gue cuma senyum kecil.
Ironisnya… Kadang gue kangen tidur sendirian. Tapi pas beneran tidur sendirian, gue malah gak bisa tidur.
Jam 09.00.
Babak pertama dimulai: rapat divisi.
Topiknya? Masih laporan lama yang dikemas bungkus baru. Sama kayak janji-janji pejabat menjelang pemilu.
Laporan yang udah dibahas minggu lalu, dan kemungkinan besar bakal dibahas lagi minggu depan. Karena hidup kantor tuh isinya cuma mengulang hal yang sama, tapi dengan emosi lebih banyak dan harapan yang makin tipis.
Bos gue, Pak Wawan, berdiri tegap kayak lagi pidato kenegaraan.
“Kenapa performa tim ini gak naik-naik? Kita harus introspeksi! Ini bukan cuma soal angka, tapi soal attitude!”
Dalam hati gue nyeletuk: Kalau bukan soal angka, kenapa tabelnya 23 kolom, Pak…?
Tapi tentu aja, itu cuma di kepala gue. Karena cicilan gue masih butuh pekerjaan ini.
Gue pura-pura fokus sambil buka HP diam-diam di bawah meja.