Hari Minggu pagi. Cuaca cerah, burung berkicau, angin sepoi-sepoi.
Tapi gue? Gugup bukan main.
Kalian tau kenapa? Karena hari ini gue dan Naya mau ke rumah orang tuanya. Alias rumah mertua gue.
Tempat yang menurut gue mirip ladang ranjau sosial. Yang harus dilewati dengan langkah super terukur. Kalau salah dikit bisa langsung meledak.
Padahal ini bukan kunjungan pertama gue.
Tapi entah kenapa rasanya selalu kayak ikut ujian masuk universitas favorit, dengan dua kemungkinan hasil: nilai A+ atau tidur di luar rumah.
Naya berdiri di depan gue. Tatapannya serius. Ekspresinya kayak petugas bandara yang lagi nyari barang selundupan.
Gue udah rapi. Baju disetrika, rambut disisir, kuku dipotong. Sempet kepikiran mau pakai dasi, tapi takut nanti dikira mau interview kerja.
“Inget ya,” kata Naya sambil merapihkan kerah baju gue. “nanti jangan ngomong sembarangan di depan Papa.”
Gue langsung ngangguk.
Rasanya kayak anak SD yang disuruh maju baca puisi, tapi baru inget judulnya doang.
***
Sampai di rumah mertua.
Naya langsung menghilang ke dapur bareng mamanya. Dan gue? Ditinggal sendirian di ruang tamu, dikelilingi foto-foto jadul Naya, toples kue kering, dan karpet yang kayaknya lebih senior dari umur gue sendiri.
Tiba-tiba muncul Tante Indri—Tantenya Naya. Spesialis senyum setengah julid.
“Putra, kamu sekarang makin bulat ya. Dulu kurus, loh.”
Dia ketawa. Gue juga ikut ketawa, karena kalau gue jawab,
“Tante juga makin bulat,” kemungkinan besar bakal terjadi Perang Dunia III di ruang tamu ini.
“Putra, sini. Ngobrol sama Papa.” Suara Papa dari ruang tengah.
Jantung gue langsung naik ke tenggorokan. Mode Wawancara HRD langsung aktif.
“Masih kerja di tempat yang sama kan?” tanya Papa dengan nada khas orang yang udah hafal CV gue.