Pagi itu berjalan biasa saja.
Ayam tetangga berkokok penuh semangat, mirip MC konser dangdut yang cuma dibayar pakai mie instan.
Sinar matahari masuk lewat sela gorden. Gue bangun dengan satu perasaan yang jujur—masih pengen libur dari kehidupan.
“Sayang, udah mau jam tujuh. Buruan bangun. Telat nanti.”
Suara Naya melengking dari sisi ranjang, diiringi tarikan selimut setengah badan gue.
Gue ngelirik setengah sadar. Wajahnya udah masuk mode tempur ringan.
“Iya, Sayang… lima menit lagi.”
“Gak ada lima menit. Ini kamu udah lima menit yang keempat belas kali.”
Dan seperti biasa, argumen itu menang mutlak di pihak dia.
Gue bangun.
Jalan ke kamar mandi sambil nguap panjang, buru-buru beresin diri.
Semua masih normal. Aman. Damai.
Sampai akhirnya gue masuk ke fase paling krusial dalam hidup seorang suami pekerja kantoran. Nyari kaus kaki.
Kaus kaki gue itu makhluk metafisika. Kalau nggak hilang sebelah, pasti muncul di tempat yang nggak masuk akal.
Pernah gue nemuin di rak bumbu dapur. Pernah juga nongol di saku jaket yang udah dua bulan digantung.
Dan pagi itu… dia lenyap lagi.
Jam makin mepet. Hari Senin pula. Bukan waktu yang tepat buat tampil beda tanpa kaus kaki.
Biasanya memang Naya yang nyiapin semuanya. Tapi entah kenapa, pagi itu gue sok mandiri.
Gue buka lemari. Awalnya pelan. Lalu makin lama makin brutal.
Baju kerja digeser, kaos dikeruk. Celana dalam dilempar tanpa dosa. Yang penting harus bisa ketemu kaus kaki.
Beberapa detik kemudian, ketemu juga. Warnanya beda tipis. Tapi di titik itu, estetika udah gak relevan.
Gue cium kening Naya.
“Sayang, aku berangkat ya.”
“Hati-hati. Jangan lupa makan siang. Bekalnya udah aku masukin ke tas kamu.”
Senyumnya manis. Gue lega.
Aman. Setidaknya… buat sekarang.