Galendra

Ooza
Chapter #2

Bab 2

Ciiittt... ciiittt...

Suara ban motor Firman terdengar memekakan telinga kala rem diinjak sekuat tenaga. Kedua tangan Renza spontan membelokkan stang motor. Dengan gerakan lincah, motor bebek tanpa spion itu meluncur memasuki halaman rumah bercat kuning yang catnya mulai memudar dan terkelupas di beberapa sudut tembok.


Motor itu berhenti tepat di depan pintu. Sebelum Renza sempat memarkirkannya ke dekat jendela, Firman yang duduk di jok belakang sudah lebih dulu melompat turun. Usai pintu terbuka Firman segera meletakkan tasnya ke atas meja. Sedangkan Renza bergegas masuk kamar untuk ganti pakaian. Dalam kurun waktu kurang dari satu menit gadis itu sudah keluar dengan stelan santai berupa kaos hitam polos dan bawahan kolor berwarna coklat susu.

"Pelanggan kita tambah dua bocah bos," ujar Firman sambil mengeluarkan beberapa buku LKS fisika dari tasnya.

Renza duduk di sebelah Firman, "Anak IPA juga kan?"

Firman mengacungkan jempol kanannya.

"Bagus lah," jawab Renza sambil mulai membuka salah satu LKS. Setelah memeriksa satu per satu, Renza mendapati sebagian LKS terbuka di halaman 19 berisi soal esai, sementara sisanya berada di halaman 21 dengan deretan soal pilihan ganda.


Selagi Renza berkutat dengan soal-soal fisika, Firman masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Begitu remaja laki-laki itu keluar, Renza meletakkan pulpennya ke atas buku tulis. Tangan kanannya lalu mengeluarkan toples kaleng berbentuk tabung dari bawah meja.

"Pasti udah kelar ya bos," Firman ikut mencomot kripik pisang dari toples yang baru di buka Renza.

Renza mengangkat kedua alisnya sebagai jawaban, "sisanya kan urusan lo sebagai asisten."

"Siap bos!" Firman mengangkat tangannya, membuat gerakan hormat seperti saat upacara bendera di hari senin.


Dengan cekatan Firman mulai menyalin jawaban pada buku tulis yang dibuat Renza ke dalam LKS sesuai tugas masing-masing yang tercantum dalam catatan kecil.

"Gue heran deh bos. Lo kan pinter pelajaran IPA kenapa malah ambil jurusan IPS?" tanya Firman.

"Ya, karena ada peluang bisnis kaya gini. Kalo gue ambil IPA juga nanti mereka ngerasa gue saingannya, dan gak bakal dapet job lagi kita," tutur Renza sambil memeluk kaleng kripiknya.

Dari luar terdengar suara motor berhenti di garasi kontrakan kecil itu. Siapa lagi, pasti Andra. Renza meletakkan toples kripiknya lalu bergegas membereskan buku-buku itu di bantu Firman, sambil beberapa kali melirik ke arah pintu.

"Sisanya lo beresin di rumah aja Pir," ujarnya setengah berbisik.

"Aman bos," sahutnya.


"Renza, abang pulang!" Andra membuka pintu lalu masuk bersama seorang temannya, Roy.

Renza bangkit menghampiri Andra yang tampak membawa kresek putih di tangan kanannya.

Sepuluh tahun cukup membuat puncak kepala Renza lebih tinggi dari bahu Andra. Gadis kecil yang dulu menangis karena takut ditinggalkan itu kini tumbuh menjadi remaja enam belas tahun yang hampir tak pernah mau digandeng lagi.

Lihat selengkapnya