Langit mulai terang. Sayangnya, itu tidak membuat langkah Renza terasa lebih ringan.
"Ayo Lorenza, tinggal lima langkah lagi," gadis itu menyemangati dirinya sendiri dengan napas berantakan.
Lampu-lampu jalan yang sejak tadi menemani perjalanannya satu per satu mulai padam. Dari perempatan komplek tadi, Renza sudah berlari sekencang mungkin karena dua manusia di barisan depan tak lagi terlihat. Kemungkinan besar Andra dan Roy sudah tiba di pos ronda yang kini tinggal sekitar lima ratus meter lagi dari posisinya.
Semburat jingga tipis mulai muncul di ufuk timur ketika Renza akhirnya tiba dengan napas tersengal. Dadanya naik turun tak beraturan, sementara perutnya mulai terasa tidak nyaman.
Tentu saja.
Itu akibat ulahnya sendiri. Sejak tadi ia berlari dengan ritme yang berantakan—sebentar sprint, sebentar jalan, lalu sprint lagi begitu panik karena tak melihat Andra dan Roy.
"Baang, capek!" Renza duduk disebelah Andra sambil memegangi perutnya yang sengkil.
Andra melirik sekilas, lalu menyerahkan botol minum yang sejak tadi dibawanya.
"Baru dua kilo Za. Jaman perang dulu nih ya, orang bangun tengah malem buat melarikan diri berpuluh-puluh kilometer jauhnya. Dan jalannya masih tanah, batu, dan belum ada orang pake sepatu. Pokonya lari terus."
Renza menenggak air minumnya beberapa teguk lalu menoleh datar, "Terus?"
"Terus mereka kuat." Andra tersenyum.
"Terus hubungannya sama Renza apa Abang?" pekik Renza kesal.
"Ya biar kamu semangat."
"Nggak ngaruh."
Roy yang duduk di seberang mereka langsung tertawa, "Bang Andra gagal memotivasi generasi muda."
"Bukan gagal," sahut Andra santai. "Anaknya aja yang keras kepala."
"Lah, Renza cuma minta napas lima menit doang kok," kilahnya sambil menerima sepiring ketoprak yang disodorkan Mang Jaka.