Hari itu Hari Minggu. Langit di luar masih gelap, jalanan juga masih sepi. Hanya ada suara beberapa kendaraan bermotor yang melaju ke arah pasar.
Sebuah tangan besar mencubit kedua pipi juga menarik ujung hidung Renza pelan.
"Renza," panggil Andra pelan.
Setelah beberapa kali percobaan, akhirnya gadis kecil berusia tujuh tahun itu menggeliat diikuti mulutnya yang menguap lebar. Cahaya lampu kamar yang sudah menyala membuat kedua mata Renza mengerjap beberapa kali.
Renza menoleh ke sisi kiri, tempat Andra tidur semalam. Laki-laki itu sudah duduk dan kini sedang tersenyum ke arahnya.
"Jam berapa sih, Bang?"
Mulut kecil itu menguap lagi, "Abang tau kan, kalo ini Hari Minggu?"
Kedua mata Renza kembali tertutup rapat.
"Tau, dong. Makanya Abang mau ajak Renza jalan-jalan."
Renza memiringkan badannya, memeluk tangan kanan Andra yang persis berada di sisinya.
"Kemana?"
"Ya udah, bangun dulu, yuk!" Andra menarik pelan kedua tangan Renza, berusaha mendudukkannya.
"Engh," lenguh Renza. Kedua matanya masih merem.
"Yaudah, kalo gak mau." Andra melepaskan tubuh Renza yang kembali rebah. "Biar Abang jalan-jalan berdua aja, sama Roy."
Kelopak mata Renza yang tadi tertutup rapat langsung terbuka. Ia buru-buru bangkit hingga terduduk, lalu menatap Andra seolah memastikan tidak salah dengar.
"Bang Roy juga ikut?"
Andra menyembunyikan senyumnya. "Iya."
Andra menarik handle pintu, lalu melangkah keluar. Renza mengekor di belakangnya, meski sebenarnya ia masih tidak rela meninggalkan bantal kesayangannya yang bergambar bebek.
"Hai, Renza!"
Roy melambaikan tangan kanan ke arah Renza, dengan senyum yang mengembang. Saat itu ia sudah duduk di bangku SMP dan sedang bersila di dekat meja. Ya, di sana hanya ada meja kecil dan tikar yang tergulung di pojok ruangan.
"Bang Roy nginep di rumah Renza?"
Bukannya menyambut sapaan Roy, gadis kecil itu malah bertanya.
"Enggak, kok." Roy menggeleng sambil tertawa kecil.
Dari arah dapur Andra berjalan membawa nampan berisi tiga gelas susu coklat panas.
"Sekarang ini harus dihabisin dulu," ujar Andra sambil menaruh nampan ke atas meja. Kemudian laki-laki itu duduk di sisi Roy.
Renza mendekati Andra, lalu segera naik ke pangkuannya.
"Ntar kalo Renza capek, gendong ya, Bang."
Andra membuang muka, "kalo capek ntar Abang sangkutin di pohon mangga."
Tangan mungil Renza memukul dada Andra, "iihhh... Abang kok jahat, sih!"
"Biarin." Tangan Andra meraih salah satu gelas susu coklat.
Sementara Roy sudah lebih dulu menggenggam salah satu gelas, menghangatkan telapak tangannya dari panas yang merambat melalui sisi gelas.
"Ntar kalo Renza capek, biar Bang Roy yang gendong." Roy mengedikkan alisnya.