Langit semakin gelap, udara yang berembus bertambah dingin. Membuat Renza bergidik di balik hoodie ungu bergambar tengkorak ikan. Dengan kedua tangan yang terasa membeku, gadis itu mengendalikan stang motor Firman penuh konsentrasi.
Sementara cowok bernama Firman itu duduk di belakang punggung Renza. Tangannya mencengkeram jok kuat-kuat, sedangkan kepalanya tak bisa diam. Setiap beberapa menit sekali ia menoleh ke belakang.
Beberapa meter di belakang mereka, lampu motor hitam itu masih terlihat.
"Za..." panggil Firman pelan.
"Apaan?"
"Kayaknya dari tadi dia masih ngikutin kita deh."
Renza melirik spion sebelah kanan yang sudah retak di bagian sudutnya. Maklum, spion nemu. Baru dipasangnya tadi pagi. Sedangkan spion kiri hanya menyisakan tangkai tanpa kaca. Lumayan, setidaknya dari jauh masih terlihat lengkap kalau ada polisi.
"Perasaan lo aja."
"Nggak. Serius. Dari lampu merah tadi juga terus-terusan ngejar."
Renza kembali fokus ke jalan. Deretan ruko yang siang hari ramai kini tampak lengang. Beberapa toko bahkan sudah menurunkan rolling door sejak satu jam lalu.
Tanpa menjawab, Renza memutar gas lebih dalam. Motor bebek itu melesat cepat. Tubuhnya meliuk lincah menyelip di antara truk gandeng dan tronton yang membawa bongkahan-bongkahan kayu besar. Firman hanya mampu komat-kamit sambil memejamkan mata.
Tin! Tinn! Tiiinnnn!
Riuh klakson langsung bersahut-sahutan. Firman banjir keringat dingin. Sementara itu, Renza tetap tenang. Matanya menghitung jarak, kecepatan, dan celah kendaraan di depannya. Sedetik kemudian motor mereka melintas di persimpangan tepat saat lampu hijau berubah menjadi kuning.
Saat kembali melirik spion retaknya, Renza mengembuskan napas lega. Motor hitam itu tertahan di belakang barisan kendaraan yang mulai berhenti. Beberapa detik kemudian lampu lalu lintas berganti merah. Mereka berhasil lolos.
Tanpa membuang waktu, Renza langsung membelokkan motor ke sebuah gang sempit yang sudah sangat dikenalnya. Firman tiba-tiba menggoyang pundak Renza dari belakang.
"Bos, berhenti dulu!"
Tanpa banyak tanya, Renza langsung mengurangi kecepatan lalu menepikan motor di bawah lampu jalan yang temaram.
"Kenapa?"
Firman tidak langsung menjawab. Ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya lalu menatap layar beberapa detik.
"Pesan dari Bang Andra."
Renza mengernyit. Firman kemudian menyodorkan ponselnya. Renza membaca pesan itu dua kali, lalu mengetik balasan singkat. Setelah menekan tombol kirim, ia mengembalikan ponsel tersebut kepada Firman. Keningnya semakin berkerut.
"Maksudnya apa?" gumamnya.
Firman mengangkat bahu.
"Nggak tau, Bos."
Angin malam kembali berembus melewati gang sempit itu.
Untuk pertama kalinya sejak berhasil lolos dari motor hitam tadi, Renza justru merasa sesuatu yang lebih aneh sedang menunggunya di rumah.
Akhirnya mereka pergi ke rumah Firman yang terletak sebelum jembatan menuju rumah Renza.
Usai memarkirkan motor di garasi gadis itu mengikuti Firman masuk ke ruang tamu. Disana hanya ada sebuah gelaran tikar motif kartun dengan televisi ukuran kecil di atas meja. Sementara Firman meletakkan tas dan ganti baju, Renza menyelonjorkan kaki dan menyandarkan punggungnya ke tembok.