Galendra

Ooza
Chapter #5

Bab 5

Dinginnya malam menyusup hingga ke tulang Andra, namun tidak dengan pikirannya. Ia dan Roy duduk di belakang meja bundar putih di pelataran Endomaret. Setelah mendengar dari Roy bahwa Renza berada di tempat Laela—gebetan Andra—laki-laki dua puluh delapan tahun itu akhirnya mengembuskan napas lega.

"Bang, lo inget pas gue pernah bilang punya adek tiri?" Roy menatap Andra sambil menahan senyum.

"Inget," sahut Andra singkat.

Tatapannya masih tertuju ke jalan raya yang kini didominasi truk gandeng dan truk letter L pengangkut semen, besi, serta material lainnya.

Roy menyesap kopi kalengnya.

"Tiga hari lalu dia pindah ke sini. Baru dua hari masuk sekolah, hari ini pulang babak belur. Hidungnya sampe retak."

Andra menoleh. "Adek tiri lo pindah sekolah?"

Roy mengangguk pelan. "Lo tau siapa yang berantem sama dia?"

Andra mengangkat sebelah alis.

"Adek kesayangan lo, Bang," ujar Roy sambil tersenyum tipis.

Andra membeku beberapa detik. Ternyata luka di wajah Renza adalah akibat berkelahi dengan adek tiri Roy. Entah siapa biang keroknya, hal tersebut malah membuat Andra bingung mau bereaksi seperti apa. Renza notabene seorang perempuan, keponakan kandungnya. Dan luka-luka itu termasuk cukup parah bagi gadis remaja seusianya. Namun, yang lebih tak terduga lawan Renza justru kondisinya lebih buruk.

"Tapi Renza aman aja kan, Bang?"

Suara Roy membuat Andra sedikit tersentak.

"Lumayan parah sih, bibirnya juga agak sobek gitu yang kiri kalo gak salah. Sama biru-biru gitulah pokonya," terang Andra dengan nada datar sambil sedikit mengingat dimana persisnya posisi luka Renza.

Bukan tidak peduli, bukan. Andra hanya sedang terlalu rumit mencerna banyak hal yang menyerbu otaknya secara serentak. Dan dibanding luka pada fisik Renza, mungkin luka di hatinya jauh lebih menyakitkan dari itu.

Andra mengeluarkan sebungkus rokok dari saku kemejanya. Ia mengambil sebatang, menyelipkannya di bibir, lalu menyalakan korek. Begitu ujung rokok mulai membara, ia mengisapnya perlahan sebelum mematikan korek dan menyimpannya kembali.

Roy memperhatikan Andra beberapa saat, lalu mengembuskan napas pelan. Ia tahu betul, Andra bukan perokok berat, apalagi pecandu. Rokok hanya muncul di tangannya ketika beban di kepalanya terasa terlalu sesak untuk dipendam sendiri. Saat itu terjadi, Andra biasanya memilih diam dan membiarkan sebatang rokok menemaninya.

"Roy," panggil Andra, nadanya serius.

Laki-laki berusia dua puluh tiga tahun itu terperanjat karena sedang fokus pada ponselnya. Ia langsung menoleh, meletakkan hapenya dan memusatkan atensi pada Andra.

"Iya, Bang."


Andra meniupkan asap rokok ke atas dengan mulutnya, "bantu cariin hape buat Renza, bisa kan? Yang kira-kira cocok buat anak SMA lah."

Roy diam sebentar, "budget berapa, Bang?"

Laki-laki berambut ikal itu mengacungkan telunjuk dan jari tengahnya, "maksimal segini, lebih dikit masih bisa gue usahain."

"Oke, Bang. Secepatnya gue cari," kata Roy sambil nyengir lega.

Ternyata cuma suruh cariin hape, batinnya.


Pikiran Andra kembali berkelana tanpa arah. Hingga akhirnya berhenti pada percakapannya dengan Lela beberapa waktu lalu.

Saat itu mereka duduk berdua di sebuah food court dekat toko buku. Seharian Andra menemani Lela berburu buku, dan menjelang sore mereka memutuskan beristirahat sambil menikmati minuman.

Setelah meneguk hampir setengah isi gelas matcha dinginnya, Lela meletakkan gelas itu di atas meja. Ia menatap Andra sejenak, lalu tersenyum.

"Ndra," panggilnya pelan.

Andra menoleh.

"Kalo gue ngomong sesuatu tentang Renza, lo keberatan gak?" kata Lela dengan hati-hati.

"Kalau ngomong yang jelek-jelek," Andra mengepalkan tangan kanannya di depan wajah Lela, "ada harganya, loh."

Lihat selengkapnya