Galendra

Ooza
Chapter #6

Bab 6

Setelah Renza turun dari motor bebek Firman, laki-laki itu segera mengambil alih kemudi lalu memutar balik motornya. Tak lama kemudian, ia melaju meninggalkan Renza.

Sebuah rumah minimalis bertingkat dua dengan gaya modern berdiri kokoh di hadapan Renza. Desain eksteriornya tampak elegan dan terstruktur. Di lantai atas rumah itu, tampak balkon menghadap ke jalan dengan dua kursi santai dan satu meja kecil di antaranya. Melihatnya dari balik gerbang saja Renza sudah mampu membayangkan bagaimana pagi yang tenang dihabiskan dengan menikmati kopi panas di teras kecil itu.


Sebuah serangga kecil tiba-tiba hinggap pada pundak kirinya. Belalang hijau itu seolah datang menyapa tetangga barunya. Renza dengan hati-hati mengambil hewan kecil itu, memindahkannya ke atas pagar. Di saat yang sama, Lela bergegas membukakan gerbang untuk Renza.

Tanpa banyak bicara, mereka melangkah masuk ke rumah Lela. Rumah itu terasa jauh lebih luas dibanding kontrakan sederhana tempat Renza tinggal bersama Andra. Tentu saja. Bahkan perabot dan catnya tampak seperti masih baru, sangat berbanding terbalik dengan rumahnya.


Begitu tiba di ruang TV yang menyatu dengan ruang tamu, keduanya duduk di sofa panjang. Di beberapa bagian temboknya tampak banyak lukisan terpajang. Mulai dari lukisan segerombol kuda yang tengah berlari, air terjun, danau, ada juga lukisan pemandangan sebuah perbukitan–yang membuat Renza tiba-tiba teringat dengan Jogja.

"Renza udah makan?" tanya Lela.

Perempuan berusia dua puluh tujuh tahun itu menatapnya lembut. Wajahnya yang bulat tampak awet muda, senyumnya juga manis. Pantas saja Andra tampak dekat dengannya, sebagai seorang perempuan saja Renza merasa betah di sisinya. Rasanya tenang, damai, dan nyaman.

"Nggak laper, Teh," jawab Renza asal.

Lela berdecak pelan. Ia duduk di sisi Renza, menyentuh pundak remaja itu pelan.

"Teteh habis masak seblak, lho. Mau coba nggak?"


Gadis enam belas tahun yang tubuhnya lebih tinggi dari Lela itu hanya mengangguk kecil tanpa tenaga. Seolah seluruh beban di dunia sedang bertumpu di kedua pundaknya.

Begitu Lela melenggang ke dapur, Renza memutar kepalanya. Pandangannya kembali menekuri lukisan bukit yang tergantung di dekat jendela ruang tamu. Ingatannya ikut terlempar ke Jogja. Sudah hampir tiga tahun ini ia dan Andra tidak menengok Mbok Sumi.


Beberapa menit kemudian Lela muncul dari dapur dengan nampan berisi dua mangkuk seblak yang masih mengepulkan asap tipis. Kakinya yang pendek terlihat lucu saat mempercepat langkahnya sambil tersenyum ke arah Renza.

"Renza boleh nginep kan, Teh?" tanyanya setengah bimbang.

"Boleh dong, Za," sahut Lela dengan nada lembut. Perempuan itu sudah berdiri di dekat meja, ia lalu dengan hati-hati memindahkan mangkuk di atas nampan ke hadapan Renza satu dan yang lain ke sisinya.

Lela sempat memperhatikan lebam di wajah Renza. Rasa penasarannya muncul, tetapi ia memilih menahan diri. Jika Renza ingin bercerita, gadis itu pasti akan bercerita saat sudah siap.


Lihat selengkapnya