Galendra

Ooza
Chapter #7

Bab 7

Dari balkon lantai atas Renza mampu melihat atap-atap rumah yang beragam jenis dan tinggi rendahnya. Pemandangan itu tepat berada di seberang rumah Lela. Siang itu langit agak redup, sepoi angin berhembus meniup tanaman hias sejenis palem di sisi kursi balkon yang tengah Renza duduki.

"Kalo belum pengen pulang, nanti Abang bawain baju sama seragam Renza ke sini. Gimana?" tanya Andra yang baru saja tiba di balkon itu.

Renza masih terdiam, tatapannya lurus ke depan. Namun pikirannya melayang pada percakapan Andra dan Lela yang tak sengaja didengarnya satu setengah jam yang lalu.

"Orang itu, masih di rumah kita?" Renza balik bertanya.

Andra menarik kursi lain, lantas mendudukinya. Ditatapnya Renza lekat-lekat. Renza menyandarkan punggung pada sandaran kursi besi. Kedua tangannya terlipat di depan dada, sementara pandangannya tertuju ke depan. Entah itu pada deretan atap rumah, jalan perumahan, atau pada awan-awan yang bergorombol di atas langit sana–yang tampak diam namun perlahan terus berarak tak beraturan.

Andra membuang napas kasar, "Abang nggak mungkin usir dia, kan?"


Renza menoleh, kemudian pandangannya kembali beralih. Benar juga, mengusir manusia itu sekarang adalah hal yang kurang pantas. Tentu saja Darma juga pasti masih akan bersikeras untuk tinggal. Karena mereka bahkan belum sempat mengobrol.

"Kamu nginep di sini dulu aja, paling nggak sampe memarnya bener-bener ilang. Bajunya ntar gampang," ujar Andra yang akhirnya memberi putusan.

"Hm," gumam Renza pelan.

Lalu gadis itu menghela napas panjang, membuat Andra ingin sekali menariknya ke dalam dekapan. Agar sang keponakan bisa menumpahkan segala kesedihan atau kekesalannya, pasti kemarin adalah hari yang cukup berat bagi remaja seusianya. Namun, kini gadis itu hanya menyimpan semuanya sendiri. Bahkan Andra sendiri pun tak ingat pasti kapan terakhir kali melihatnya menangis.

"Renza mau telpon simbok, Bang." katanya kemudian.

Andra mengangguk, setelah menyerahkan ponselnya laki-laki itu meninggalkan keponakannya di balkon seorang diri.


Sementara itu Andra menghampiri Lela yang tengah sibuk dengan adonan kuenya. Perempuan yang tak lebih tinggi dari pundak Andra itu mengenakan celmek warna coklat susu. Kedua tangannya sedang fokus mencetak adonan menggunakan ragam bentuk cetakan berbahan stainless.

"Gimana, udah ngomong belum soal alesan ayah Renza dateng?" Lela menoleh sekilas pada Andra, lalu tangannya meraih loyang untuk dimasukkan oven.

"Waktunya belum tepat," Andra berkata lirih.

Ia lalu meraih gelas kosong yang disimpan terbalik di rak dekat meja dapur, menuangkan perlahan air putih dari teko kaca bening di atas meja. Pandangannya tiba-tiba saja menangkap punggung Renza yang berguncang, dari balik jendela.


———————————————


"Abang! Sini deh," teriak Renza dari arah ruang TV.

Andra yang baru saja menyimpan tasnya ke kamar segera bergegas setelah mendengar teriakan Renza yang agak panik. Saat itu mereka sedang liburan tahun baru, seperti tahun-tahun sebelumnya. Dan mereka baru saja tiba, usai menghabiskan beberapa jam di kereta.

Renza sedang duduk di sofa, memegang sebuah bingkai foto berukuran dua puluh kali tiga puluh sentimeter. Kedua matanya terpaku pada foto dalam bingkai yang digenggamnya. Jemarinya mencengkram bingkai kayu tersebut hingga buku-buku tangannya memutih. Andra segera mendekat, duduk di sisi Renza.

"Kenapa, Za?" Andra ikut melihat bingkai foto di tangan keponakannya.


Dalam foto itu, Mbok Sumi berdiri di tengah, diapit sepasang pengantin yang mengenakan busana adat Jawa. Laki-laki dalam foto itu tersenyum tipis. Wajahnya sangat mirip dengan Andra, hanya lebih gemuk dan berkumis. Sedangkan sang mempelai perempuan, jelas bukan Santi–ibunya Renza.

"Dia... " Renza menunjuk foto Darma. Lalu menatap Andra untuk memastikan bahwa dugaannya memang benar.

"Ayah kamu, Za." kata Andra lemas.

Renza terdiam sebentar, "tapi perempuan di sebelah simbok bukan Mama Santi, kan?"

Andra menelan ludah. "Bukan," jawabnya pelan.

Tangannya lantas merangkul bahu Renza, membiarkan remaja tiga belas tahun itu bersandar pada bahunya. Perlahan Renza melepaskan foto itu, membiarkan tangan Andra memindahkannya ke atas meja.


Mbok Sumi yang baru selesai memberi makan ayam berjalan masuk dari pintu samping. Sebelum menghampiri putra bungsu dan cucunya perempuan lansia itu membasuh tangannya pada wastafel. Kemudian ia segera datang ke ruang TV.

"Ndra," panggilnya.

Lihat selengkapnya