Siang itu matahari bersinar terik, menghangatkan halaman SMA tempat Renza bersekolah. Kantin tetap seramai biasanya. Suara murid-murid yang saling memanggil, berebut antrean, dan denting piring bercampur menjadi satu.
Di salah satu meja, Renza duduk diam dengan pandangan kosong ke seberang lapangan basket. Tak ada siapa pun di sana. Hanya sebuah bola basket yang teronggok sendirian di dekat tiang ring. Barangkali memang begitu nasib sebuah bola. Setelah diperebutkan banyak orang, dilempar ke sana kemari, dan melambung tinggi, akhirnya ia tetap ditinggalkan sendirian.
"Bos."
Renza menoleh. Firman baru saja meletakkan dua gelas es teh di atas meja. Tak lama kemudian Bu Yanti datang membawa dua mangkuk mi ayam yang masih mengepul, lalu meletakkannya di hadapan mereka sebelum kembali ke warungnya.
Renza meneguk setengah gelas es teh lebih dulu. Setelah itu, ia menarik salah satu mangkuk mi ayam ke hadapannya, lalu mulai menuangkan saus, kecap, dan sambal sesuai kebiasaannya.
"Tadi... gimana bos?" tanya Firman ragu-ragu. Kedua matanya melirik sekilas ke wajah Renza lalu buru-buru beralih kembali pada mangkuknya. Tangan kanannya sedikit gemetar hingga beberapa kali kuah dari sendoknya tercecer saat ia menyuapkan ke mulut.
Renza tidak langsung menjawab. Ia terus menyuap mi ayamnya tanpa mengangkat kepala. Keheningan yang tercipta justru membuat Firman semakin salah tingkah. Hingga akhirnya, mangkuk di hadapan Renza sudah tandas sebelum satu kata pun keluar dari mulut gadis itu.
"Dititipi surat cinta buat Abang gue," jawab Renza santai sambil memutar sedotan di dalam gelas es tehnya. "Sama bonus libur tiga hari."
Firman melotot. "Serius lo?"
Renza hanya mengedipkan kedua matanya sekali sebagai ganti dari anggukan.
Remaja laki-laki itu membuang napas kasar seolah dari hidungnya akan menyemburkan api layaknya naga terbang dalam film-film. Sendok dan garpu dalam kepalan tangannya ikut bergetar ketika tanpa sadar ia menghentakkan tangan ke atas meja.
"Kalo gitu... "Firman terdiam sejenak, seolah sedang menyusun keputusan besar. "Gue juga bakal ijin acara keluarga tiga hari," lanjutnya dengan mantap.
Renza tertawa kecil, "terus? Mau ngapain lo?"
Firman nyengir kuda, "warnet yuk, Bos!"
Renza langsung menoyor kepala Firman.
"Pir, lo ngotak gak sih?"
Yang dimarahi hanya memamerkan giginya.
"Ampun, Bos!" Firman menangkupkan kedua tangan di depan dada sambil terkekeh.
Arman datang entah dari mana, dan entah sejak kapan berdiri di belakang mereka. Tahu-tahu ia sudah menjatuhkan pantatnya di bangku panjang, persis di sebelah kiri Renza. Sontak Renza dan Firman menoleh bersamaan.
"Kak Ren, gue kira si Jery-Jery itu—"
Bisikan Arman terputus. Sosok jangkung berambut cepak yang sedang mereka bicarakan ternyata berdiri di dekat kulkas minuman, menunggu Bu Yanti mengambilkan air mineral.
Arman langsung menutup mulutnya.
"Anjir..." gumam Firman pelan.
Renza hanya melirik sekilas ke arah Gery, lalu kembali memainkan sedotannya.
Tadi pagi, sebelum bel istirahat berbunyi, mereka sama-sama dipanggil ke ruang BK. Renza datang belakangan dan sempat melihat Gery keluar lebih dulu dari ruangan itu. Sejak saat itu, mereka belum saling bicara.
Beberapa detik kemudian Gery berjalan melewati meja mereka. Di hidungnya masih menempel selembar plester krem. Langkahnya sempat terhenti ketika sejajar dengan meja Renza. Tatapannya jatuh pada lebam yang masih tersisa di sudut bibir gadis itu.
Renza balas menatap tajam, seolah berkata : Apa lo liat-liat?