Motor Zupeter milik Roy melaju cukup kencang, berbelok lincah menuju jalan raya di kawasan Cipondoh. Sementara itu, Renza yang duduk di belakang tidak terlalu memperhatikan perjalanan. Pikirannya melayang ke sana kemari.
Beberapa kali gadis itu menghela napas. Helmnya bahkan beberapa kali menumbuk bagian belakang helm Roy tanpa sengaja. Tanpa disadarinya, motor itu sudah berbelok memasuki jalan yang lebih kecil.
Renza refleks meraih pundak Roy saat motor mereka melewati polisi tidur.
"Sorry, Bang. Gue kaget barusan." Renza segera menarik kembali tangannya.
Roy melirik sekilas dari spion.
"Lagi mikirin apa, sih?"
Gadis berseragam SMA di belakang Roy itu terdiam.
"Bang Roy mau beli es cendol dulu. Renza mau, nggak?" tanya Roy kemudian.
"Mau."
Jawaban itu meluncur begitu cepat hingga Renza tanpa sadar mengucapkannya cukup keras. Beberapa pengendara yang melintas bahkan sempat menoleh ke arahnya.
"Za," Roy kembali melirik dari spion. "Nggak usah teriak-teriak."
Renza hanya tertawa kecil.
Roy sudah tidak heran dengan gadis yang satu ini. Cara termudah mendapatkan perhatian Renza adalah dengan mantra pamungkas yang satu itu.
Sebutkan saja sembarang benda yang bisa dikunyah.
Dan, tara!
————————————————————
Di bawah tenda oranye, Renza duduk di kursi plastik, bersebelahan dengan Roy. Tatapannya lurus ke depan, mengikuti lalu-lalang kendaraan yang seolah tak pernah habis.
Namun, di balik tatapan kosong itu, pikirannya kembali pada satu benda yang sejak tadi disembunyikannya di dalam tas.
Amplop putih.
"Za..." Roy memanggil pelan. Ia melirik Renza dari sudut matanya, memastikan gadis itu cukup tenang untuk diajak bicara.
"Apa?" sahut Renza tanpa tenaga.
Kedua ujung kaki Roy bergerak-gerak gelisah. Napasnya terdengar berat. Ia tampak menimbang-nimbang kalimat yang sejak tadi berputar di kepalanya.
"Gue mau nanya sesuatu, boleh?"
Gadis itu menoleh. Tatapan mereka bertemu sepersekian detik. Lalu Renza menyapu setiap sisi dari wajah Roy. Sebelum mengalihkan pandangannya kembali pada jalanan ia mengerjap beberapa kali.
"Tinggal nanya aja," jawabnya. Kali ini nadanya lebih berbobot dari sebelumnya.
"Bokap lo," Roy sengaja berhenti. Memastikan apakah aman jika melanjutkan ucapannya. Namun Renza tak bergeming, tetap terpaku menatap jalan. "Dateng ke sini?"
"Hm," sahut Renza.