Galendra

Ooza
Chapter #10

Bab 10

Sebuah motor Zupeter berbelok ke arah rumah sederhana di samping toko kelontong. Bangunan itu tampak sedikit lebih besar dibanding rumah kontrakan yang Renza tinggali bersama Andra.

Motor itu lalu berhenti di dekat pagar besi. Setelah memastikan Renza sudah turun, Roy memarkirkan motornya di garasi depan, persis satu meter dari jendela. Sementara Renza berdiri di depan pintu, menunggu Roy.

Ceklek.

Pintu terbuka. Di sana berdiri Andra dengan setelan kaos hitam dan celana jeans navy. Rambut ikalnya sedikit bergoyang kala tertiup angin.


"Ngapain bengong di depan pintu, Za?" tegurnya.

Renza menoleh.

"Abang!"

Andra mendecak pelan. Tangannya kemudian menarik lengan kanan Renza agar masuk ke dalam, mengikuti langkahnya.

Begitu melewati ruang tamu, langkah Renza mendadak terhenti. Di sana, duduk seorang laki-laki jangkung dengan plester krem masih menempel di hidungnya.

Gery.

Renza mengerjapkan mata beberapa kali.

"Lah?"

Gery yang semula menunduk menatap layar ponsel perlahan mengangkat kepala. Tatapan mereka bertemu. Namun sekarang sorot mata remaja laki-laki itu sama sekali berbeda dengan tatapannya kepada Renza siang tadi.

"Lo."

Renza mengernyit. Bukannya saling melotot atau saling sindir seperti yang ia bayangkan, Gery justru terlihat tenang. Seolah perkelahian mereka beberapa hari lalu tidak pernah terjadi.


Renza menoleh cepat kepada Andra.

"Bang..." Nada suaranya mulai curiga. "Ngapain dia di sini?" Renza menunjuk Gery dengan dagunya.

Andra tidak langsung menjawab. Ia justru berjalan ke sofa panjang, lalu menoleh kepada Renza.

"Duduk dulu," perintahnya sambil menunjuk sofa itu.

Renza masih berdiri di tempat sambil sesekali melirik Gery dengan ekor matanya. Tapi sepertinya rival adu jotosnya beberapa hari lalu itu tak peduli dengan keberadaannya. Ia tampak sudah kembali fokus dengan ponselnya.

"Kenapa?" Andra menyentuh pundak Renza.

Renza menggeleng, lalu menjatuhkan tubuhnya ke sofa dengan wajah masam. Tas selempangnya ia letakkan di pangkuan, sementara tangannya tanpa sadar menggenggam resleting tas itu erat-erat.


Roy masuk beberapa detik kemudian dan menutup pintu.

"Ger," panggilnya pelan.

Gery menoleh.

"Bikin kopi dulu, dong!"

Tanpa banyak kata Gery mengangguk. Lantas ia meletakkan hapenya ke atas meja sebelum bergegas pergi ke dapur.


Roy duduk di sofa, persis pada bagian tempat tadi Gery duduk. Sedangkan Andra yang masih berdiri di sisi Renza kini berjalan ke sisi Roy kemudian duduk di sebelahnya.

"Kaget ya, Za?" Roy tersenyum meledek.

Andra malah tertawa kecil.

"Bang Roy, ngapain sih bocah tengik itu di sini?" Renza menghela napas kasar.

"Abang juga. Ngapain sih, dia dibawa ke sini? Abang udah tau kan, kalo dia yang bikin Renza bonyok kaya gini?" Renza manyun.

Gadis itu menyandarkan punggungnya. Sekarang ia sudah merasa sedikit lega melihat Andra yang tampak lebih santai. Namun, ia juga masih belum bisa menduga apa yang akan terjadi selanjutnya. Apa pun rencana Andra, Renza yakin pertemuan ini bukan kebetulan.

"Ya Abang kan, mau balas dendam buat Renza." Andra menyilangkan tangan di depan dada.


Beberapa menit kemudian Gery datang membawa nampan dengan empat gelas kopi di atasnya. Dengan hati-hati ia menurunkan satu per satu gelas kopi ke atas meja. Semerbak aromanya langsung menguar ke udara bersamaan dengan asap tipis yang mengepul pelan.

"Za, kenalin!" Roy berdiri, kemudian merangkul bahu Gery dari samping ketika remaja itu sudah selesai memindahkan gelas dari nampan.

Lihat selengkapnya