Galendra

Ooza
Chapter #11

Bab 11

Roy kembali beberapa menit kemudian dengan kantong kresek putih berisi aneka gorengan. Ia langsung duduk di sisi Andra, lalu meletakkan kantong itu di atas meja.

Belum sempat Roy membukanya, Renza sudah lebih dulu menjulurkan tangan.

"Eh!"

Gadis itu dengan santainya mengambil sepotong bakwan dan tahu isi.

"Gue kan, belum makan siang Bang." Renza menatap Roy dan Andra bergantian. Lalu detik berikutnya ia sudah menjejalkan gorengan itu ke dalam mulutnya.

Andra geleng-geleng, "Pelan-pelan, Za."

Baru saja Andra menyelesaikan kalimatnya, Renza tersedak.

"Ughuk.."

Gery yang berada di sebelah gadis itu buru-buru menyodorkan segelas kopi yang ada di meja.

"Minum dulu," katanya lirih, nyaris tak terdengar.

Renza sempat menatap gelas itu, lalu wajah Gery. Ragu sesaat, ia akhirnya meraihnya juga.

Sekilas Andra dan Roy saling lirik.


"Ekhem... " Andra berdehem.

Seketika seluruh atensi terfokus pada Andra.

"Ger," panggilnya.

Gery menatap Andra lalu beralih pada Roy sebentar sebelum akhirnya kembali menunduk.

"Iya, Bang." Suaranya masih terdengar ragu-ragu.

Roy hampir membuka lagi mulutnya, namun Gery yang menyadari hal itu segera meraih tempe mendoan. Lalu menyodorkan paksa ke arah mulut Roy.

"Lo udah sadar, salah lo di mana?" tanya Andra.

Nada bicara Andra yang tenang membuat kegelisahan dan ketegangan Gery berangsur reda. Berbeda dengan Renza. Gadis itu malah semakin jengkel, ekspresinya bertambah kecut seiring detik yang berlalu. Jari jemarinya terus sibuk memainkan ujung tasnya hingga telapak tangannya memerah.


Gery menarik napas panjang. Jemarinya saling bertaut di atas lutut.

"Sadar, Bang."

Ruangan kembali sunyi.

"Gue emang nggak seharusnya mukul Renza. Waktu itu gue kebawa emosi."

Gery melirik Renza, " Za, gue minta ma–"

"Gue nggak butuh permintaan maaf lo!" Renza memotong begitu saja kalimat Gery.

"Za," panggil Andra pelan.

"Kata-kata doang mah, buat apa Bang? Nggak ngilangin luka gue juga, kan?" Renza menunjuk sisa bengkak di bawah mata dan salah satu sudut bibirnya bergantian.


Gery menegakkan kepala, memiringkannya pada Renza.

"Jadi, menurut lo gue harus ngapain?"

Lihat selengkapnya