"Za," suara lembut Lela terdengar dari balik pintu kamar tamu, diiringi beberapa ketukan pelan.
Tok... tok...
Renza terduduk. Tangan kirinya mengucek mata sebelum meraih sakelar dan menyalakan lampu. Setelah itu, ia kembali duduk di tepi kasur.
"Renza hari ini libur, Teh," sahutnya dengan suara parau. "Dua hari lagi baru masuk sekolah."
Baru saja kalimat itu selesai, tubuhnya kembali limbung. Kelopak matanya turun perlahan, nyaris membawanya kembali ke alam mimpi.
"Abang udah nungguin, tuh. Katanya joggingnya tetap nggak libur, Za."
Suara Lela sekali lagi menarik Renza dari kantuk yang hampir menyeretnya kembali ke alam mimpi. Gadis itu kemudian bangkit, lalu menyeret kakinya ke arah pintu. Setelah kunci dibuka, ia membuka pintu sekadarnya.
"Teh Lela bilang ke Abang, Renza minta lima menit lagi." Gadis itu berbalik berniat merebahkan diri lagi, tanpa menyadari bahwa kini yang berdiri di dekat pintu bukan Lela.
"Mau ngambil setengah nyawa yang ketinggalan di mimpi, gitu," imbuhnya sambil melangkah mendekati tempat tidur.
"Za," panggil Roy bersamaan dengan tangannya yang meraih pergelangan tangan kiri Renza.
Karena terkejut, Renza spontan berbalik dan justru menabrak dada Roy. Ia mengangkat pandangannya, mengerjap beberapa kali. Mata sipit, kumis tipis dan hidung siung bawang yang begitu dikenalnya membuat kantuk Renza langsung hilang seketika. Roy.
"Nyaman ya, Za?" Roy menatap Renza yang masih belum mengangkat kepala dari dadanya. "Tiduran di dada gue."
Renza langsung mengangkat kepalanya, berdiri dengan postur tegap, membuat genggaman Roy di pergelangan gadis itu ikut terlepas.
"Kok, Bang Roy? Abang mana?"
Roy tersenyum kecil.
"Abang lo nunggu di pertigaan, lah. Kejauhan kalo kesini, Za."
Renza berdecak.
"Terus..." ia lantas menyilangkan tangan di depan dada, "lo ngapain ke sini segala, Bang Roy?"
Roy terkekeh pelan. Rambutnya yang setengah basah membuat penampilannya tampak segar. Aroma parfumnya yang kalem justru membuat Renza kembali menguap lebar.
"Jemput lo, lah." Roy kembali meraih pergelangan kiri Renza, "udah ayo, ntar Abang lo murka kalo kelamaan."
Gadis itu berusaha melepaskan tangan Roy.
"Bang, tapi gue belum siap loh. Liat, deh!"
Roy menatap gadis di sampingnya dari ujung kepala hingga kaki. Rasanya Renza memang tak perlu berganti pakaian. Hoodie bergambar tengkorak ikan dan celana panjang yang dikenakannya sudah cukup untuk jogging pagi.
"Nggak perlu, Za. Orang-orang juga masih tidur, kok. Kayak mau ketemu siapa aja, harus rapih segala."
Renza menelan ludah.
"Kan, takutnya bau iler."
Roy terkekeh.
"Santai aja, Za. Bukan mau kondangan, kok."