Di luar, matahari mulai tinggi. Sementara itu Firman sedang duduk bersandar di sofa ruang TV rumah Lela. Remaja itu mengenakan kemeja biru bernuansa pemandangan laut dengan bawahan jeans dongker ketat. Di atas kepalanya tampak tersangkut kaca mata hitam.
Lela duduk di sebrang Firman, ia langsung menyalakan TV begitu selesai membersihkan dapur. "Kalian mau kencan, ya?" Katanya menggoda.
"Enggak, Teh. Cuma mau ke pantai," sahut Renza.
Gadis itu baru saja menutup pintu kamar tamu. Ia tampak santai seperti biasa. Hanya mengenakan kaos hitam lengan pendek bergambar bajak laut dengan bawahan celana panjang warna coklat tua. Renza juga membiarkan rambutnya setengah tergerai.
"Aduh, Za. Yang niat dikit lah," Lela memandangi penampilan Renza.
Renza menghela napas.
"Apa sih, Teh. Orang cuma mau ke pantai, kok."
Lela tiba-tiba mengerutkan alis.
"Tunggu deh, " perempuan itu melirik Firman yang tampak fokus menatap layar kaca. "Firman diskors juga, Za?"
Renza mengedikkan bahu.
"Tanya aja, Teh."
"Enggak sih, Teh. Tapi kan, kasian kalo Renza nggak ada temen main." Firman masih tetap menatap layar televisi yang sedang menayangkan acara FTV.
Lela berdecak pelan sambil geleng-geleng kepala, lalu menghela napas pelan.
"Terus... orang tua, tau?"
Kali ini Firman menoleh, pandangannya lalu tertuju pada lantai.
"Gue kan, yatim piatu, Teh. Untungnya orang tua Arman mau nampung gue, jadi gue disekolahin juga."
Renza berjalan ke arah dapur tanpa disadari oleh Lela maupun Firman.
"Kalo nggak... " Firman tersenyum tipis, "mungkin gue bakal hidup di jalan, jadi anak punk Teh."
Lela menghela napas. Ia terdiam beberapa saat. Tatapannya pada Firman berubah lembut.
"Ya udah, lain kali jangan bolos loh!"
Firman nyengir.
Tok.. tok...
Suara ketukan pintu depan membuat Lela segera bangkit untuk mengetahui siapa gerangan yang datang. Tak lama kemudian, Renza kembali dari dapur. Bersamaan dengan itu, Firman ikut berdiri ketika Lela sudah berjalan ke arah pintu.
Ceklek.
Pintu terbuka. Lela segera melangkah ke luar. Di sana berdiri Roy dengan jaket denimnya. Laki-laki itu mengernyitkan dahi.
"Loh, kalian mau kemana?" Roy menatap Renza dan Firman bergantian.
"Main," sahut Renza pendek.
Firman mengiyakan dengan anggukan kecil.
Saat menoleh ke belakang, Lela mendapati Renza dan Firman sudah berdiri di ambang pintu sambil cengar-cengir. Perempuan itu lalu kembali menatap Roy.
"Mereka mau jalan ke pantai, Roy."
Usai menyelesaikan kalimatnya, Lela kembali ke depan televisi, meninggalkan Roy bersama dua anak SMA itu di ambang pintu.
Tanpa banyak bicara, Roy menepuk pelan bahu Renza, mengarahkannya kembali masuk ke dalam rumah.
"Gue mau ngomong bentar."
Firman hanya mengekor di belakang mereka. Ketiganya kemudian duduk di ruang TV. Roy dan Renza menempati sofa, sementara Firman memilih berdiri di samping Renza.