Langit telah sepenuhnya berubah gelap. Debur ombak kini terdengar lebih jelas dibanding riuh pengunjung yang mulai memadati pantai.
Renza merebahkan diri di atas kasur penginapan. Pandangannya menerawang langit-langit sebelum tangannya meraih ponsel baru pemberian Andra. Ia membuka galeri, melihat-lihat jepretan dirinya di tepi pantai sore tadi.
"Cantik juga, gue!"
Renza terkekeh melihat salah satu fotonya. Dalam foto itu, ia berdiri di tepi pantai sambil menghalau ombak yang datang. Di belakangnya, matahari senja perlahan tenggelam di ufuk laut. Renza tertawa lepas, rambutnya yang setengah tergerai berkibar diterpa angin.
Ia tersenyum kecil.
"Sore yang menyenangkan."
Jemari Renza kembali menggeser layar. Kali ini muncul potret dirinya bersama Firman saat sedang makan ikan bakar di salah satu warung. Ia berhenti cukup lama pada foto itu. Entah kenapa, dadanya terasa sedikit sesak.
Jarinya kembali menggeser layar. Ada foto lain—dirinya dan Firman sedang berjongkok di bawah pohon kelapa, sibuk membangun istana pasir dengan wajah yang sama-sama konyol.
Renza menatap foto itu beberapa detik. Kemudian ia meletakkan ponselnya dan duduk.
"Sebenernya lo ngapain sih, Pir?" ujar gadis itu kesal.
Setelah makan tadi, Firman mengantarnya ke penginapan. Ia juga memberinya sekantong camilan ringan dan satu kantong lain berisi beberapa jenis minuman.
"Gue harus cabut sekarang, Bos," kata Firman setengah berbisik.
"Lo..." Renza menunjuk Firman. "Nggak bisa kasih tahu gue sama sekali?"
Gadis itu membuang napas kasar.
Firman hanya tersenyum.
"Besok, kalo kita masih bisa ketemu, gue bakal cerita kok, Bos."
Renza mengangguk-angguk, lalu dengan nada datar berkata, "ya udah, gue masuk dulu."
Kalo kita masih bisa ketemu, Pir? Buuseettt. Kayak mau mati aja lo, Pir.
Gadis itu meraih dua kantong yang disodorkan Firman sebelum berbalik menuju tangga.
"Maafin gue, Bos."
Langkah Renza sempat terhenti.
Ia masih mendengar suara Firman, tetapi hanya bergumam sebagai jawaban sebelum kembali melangkah. Dalam pikirannya, besok Firman harus dan pasti akan menjelaskan semuanya. Apa pun itu. Dan Renza berharap penjelasannya tidak sekonyol alasan Firman selama ini.
Renza meraih ponselnya kembali. Ia menekan tombol power, tetapi layar itu tetap tidak mau menyala.
"Loh, kok mati? Bukannya hape baru?"
Renza mengerutkan dahi. Beberapa detik kemudian, ia menepuk jidatnya sendiri.
"Kenapa tadi Bang Roy gak kasih gue chargernya?"
Aaarrrgggh!
——————————————————————
Kicauan burung membuat Renza terbangun. Dari luar, deburan ombak masih terdengar cukup jelas di telinganya.
"Engh..." lenguhnya sambil menggeliat.
Perlahan mulutnya terbuka lebar, tetapi buru-buru ditutup dengan telapak tangan kanan. Ia mengucek kedua mata, lalu mengerjap beberapa kali untuk mengusir sisa kantuk.
Angin laut dari luar meniup gorden jendela yang menghadap langsung ke arah pantai. Rupanya, semalam ia lupa menutup jendela itu.
"Malah ketiduran, gue."
Gadis itu terduduk. Bungkus makanan ringan berserakan di lantai sekitar nakas, menjadi bukti kalau semalam ia memang berniat menghabiskan waktu sambil menunggu Firman kembali. Namun, sampai tertidur pun, laki-laki itu tidak kunjung muncul.
Renza menghela napas.
"Dasar aneh."
Tangannya kemudian meraih jaket denim Roy yang tersampir di kapstok.
Renza mengangkat jaket itu sebentar.
"Hmm..."
Tercium samar aroma yang ia kenal.
"Wanginya Bang Roy masih ada."
Tanpa banyak pikir, Renza mengenakan jaket tersebut. Setelah itu, ia berdiri dan berjalan menuju jendela untuk melihat keadaan di luar.
Langit mulai terang, meski matahari masih malu-malu menampakkan diri. Pantai di kejauhan tampak jauh lebih sepi dibanding semalam. Renza melirik jam dinding berbentuk bulat yang tergantung di atas pintu. Jarum pendek menunjuk angka lima, sedangkan jarum panjang berada di antara angka enam dan tujuh.
"Setengah enam..."
Renza menguap kecil.
Ia baru hendak berbalik ketika pandangannya kembali tertuju ke luar jendela. Entah kenapa, pagi itu pantai terasa berbeda.