Pintu ruang tunggu kantor polisi terbuka ketika Andra masuk dengan langkah terburu-buru. Sejak mendapat kabar bahwa Renza belum pulang sampai tengah malam, pikirannya hanya dipenuhi satu kemungkinan: jangan-jangan terjadi sesuatu.
Nama Firman adalah salah satu yang pertama muncul di kepalanya. Menurut Lela dan Roy, kemarin siang Renza pergi bersama remaja laki-laki itu. Katanya ke pantai. Dan sekarang ia mendapat pesan dari Arman bahwa sepupunya itu–Firman justru sedang berada di kantor polisi.
Andra menghampiri petugas di meja depan. Napasnya memburu, dari kedua matanya seperti terpancar kilatan api yang siap membakar apa saja.
"Pak, saya mau ketemu sama remaja cowok. Namanya Firman. Umurnya enam belas tahun. Katanya ada anak sekolah yang dibawa ke sini tadi malam."
Petugas itu mengangkat wajah. "Anda walinya?"
"Bukan, Pak. Keponakan saya kemarin pergi sama Firman dan sampai sekarang belum pulang. Namanya Renza," terang Andra.
Sementara petugas tersebut memeriksa sesuatu di layar komputer, kaki Andra terus-terusan bergerak dengan kepala yang tolah-toleh tak bisa diam.
"Nama Renza nggak ada," kata petugas itu kemudian.
Andra mengembuskan napas lega. "Kalau Firman?"
Jemari petugas kembali bergerak. Beberapa detik kemudian, ia mengangguk. "Ada."
Andra langsung menegakkan badan. "Dia di mana?"
"Masih diperiksa."
Andra hendak melangkah, tetapi petugas itu segera menahannya. "Pak, tunggu dulu. Bapak keluarganya Firman?"
"Bukan. Saya omnya Renza."
"Kalau begitu, Bapak tunggu di sini dulu."
Andra terpaksa mengangguk.
Beberapa langkah dari tempatnya berdiri, seorang anak laki-laki duduk sendirian di bangku. Firman. Kemejanya terlihat lecek pada beberapa sisi, begitu pun dengan rambutnya yang tak kalah berantakan. Wajahnya pucat dan pandangannya terus jatuh ke lantai.
Andra langsung mengenalinya.
"Firman?"
Anak itu mengangkat kepala. Mata mereka bertemu. "Bang Andra..." ucapnya lemas.
Andra menghampirinya. Ia lalu menarik kerah remaja laki-laki itu, menyorotnya dengan tatapan penuh amarah.
"Renza di mana?" Andra bertanya dengan nada penuh penekanan.
Firman terdiam. Ia menunduk dalam karena tak sanggup membalas tatapan Andra. Tangan dan kakinya sudah gemetar dan dibanjiri oleh keringat dingin.
"Terakhir sama kamu, kan?" Tangan kekar Andra mengguncang kerah kemeja Firman.
Remaja laki-laki itu hanya menjawabnya dengan anggukan pelan.
"Terus kenapa kamu ada di sini?"
Anak itu mengangkat pandangannya sebentar, lalu kembali menunduk. Ia mengusap kedua telapak tangannya yang berkeringat.
"Gu-e... gue nggak tahu, Bang."
Andra mengernyit.
"Nggak tahu apa?" Nada suara Andra meninggi.
Sebelum Andra sempat mendengar jawaban Firman, seorang petugas keluar dari ruang pemeriksaan.
"Pak Andra?"
Andra menoleh. Cengkeramannya pada kerah Firman langsung dilepaskan.
"Saya perlu menjelaskan sesuatu soal Firman."
Andra mendengkus. Jantungnya kembali berdegup lebih cepat. Ia kemudian berjalan mendekat ke arah petugas itu. "Apa dia melakukan sesuatu ke Renza?"
"Bukan begitu." Petugas tersebut melirik Firman sebentar. "Anak itu diamankan karena perkara narkotika."
Deg.
Andra membeku seketika.
"Narkotika?" Ucapnya lemas.
Firman langsung menundukkan kepalanya lebih dalam.
"Dia bukan pengedar, Pak. Dari pemeriksaan awal, keterlibatannya mengarah pada penyalahgunaan. Karena usianya masih enam belas tahun, penanganannya juga menggunakan mekanisme peradilan anak."
Andra perlahan menatap Firman. Anak yang selama ini ia kenal sebagai teman Renza itu ternyata menyimpan masalah yang sama sekali tidak pernah ia ketahui.
Laki-laki dua puluh delapan tahun itu lalu kembali menoleh ke arah petugas. "Terus Renza?"
"Kalo nanti dalam waktu dua kali dua puluh empat jam Renza belum ketemu, Bapak bisa membuat laporan orang hilang," jelas petugas itu. "Nanti... kami juga akan mencari keterangan dari Firman," imbuhnya.