Renza menjulurkan tangannya ke arah pintu kontrakan. Namun, dua detik kemudian, ia menariknya kembali. Gadis itu menoleh ke belakang. Roy masih berdiri di sana. Laki-laki itu hanya mengangguk kecil, memberi isyarat agar Renza tidak mengubah niatnya.
Renza menarik napas panjang. Kali ini, tangannya kembali meraih gagang pintu. Ceklek. Pintu terbuka. Ia melangkah masuk perlahan, berusaha meredam gejolak yang sejak tadi memenuhi dadanya.
Dan sesuai dugaannya. Darma sedang duduk santai di sofa. Laki-laki itu tampak sibuk menatap layar ponselnya, seolah tidak ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan.
Renza berhenti beberapa langkah dari pintu. Dadanya kembali berdebar.
"Yah..."
Suara itu akhirnya keluar.
Darma terdiam sejenak. Ia kemudian mengangkat wajah dan menoleh ke arah putrinya. Pandangan mereka bertemu. Hanya beberapa detik. Namun bagi Renza, rasanya jauh lebih lama. Gadis itu buru-buru membuang pandangan.
"Iya, Za."
Senyum canggung perlahan muncul di wajah Darma.
"Kamu panggil Ayah?"
Renza mengangguk kecil.
"Iya."
Hanya satu kata. Namun setelah mengucapkannya, keberaniannya seolah kembali menguap.
Darma menepuk sisi sofa di sebelahnya.
"Sini, duduk!"
Renza tidak langsung bergerak. Matanya justru menyapu ruangan, seakan mencari alasan untuk tetap berdiri. Roy yang masih berada di belakangnya akhirnya mendorong pundak gadis itu pelan ke arah sofa. Renza menoleh dan melemparkan tatapan protes. Roy hanya membalasnya dengan tatapan yang seolah berkata : udah, jangan banyak mikir.
Renza mendengkus pelan sebelum akhirnya berjalan mendekati sofa.
Darma memperhatikan Roy yang masih berdiri. "Kamu duduk juga!"
Roy tertawa kecil.
"Nggak usah, Om. Saya mau langsung pulang aja."
"Nggak apa-apa. Duduk aja!"
Roy baru hendak melangkah ketika tangan Renza lebih dulu menarik lengannya. Laki-laki itu menoleh. Renza tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menatapnya sebentar sebelum menarik Roy hingga terpaksa duduk di sampingnya.
Roy mengembuskan napas kecil.
"Za..." lirihnya.
Renza pura-pura tidak mendengar.
Darma kemudian membungkuk dan mengeluarkan sesuatu dari kolong meja. Dua buah tas kertas berwarna cokelat. Renza menatap benda itu dengan dahi sedikit berkerut.
"Besok Ayah pulang ke Jogja," ucap Darma seraya meletakkan kedua tas tersebut di atas meja, persis di hadapan Renza.
"Sebenernya... Ayah pengen kamu ikut."
Ucapan itu membuat Renza mengangkat wajah. Namun Darma tidak langsung melanjutkan. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menundukkan pandangan.
"Tapi..."
Ia terdiam cukup lama.
"Ayah sadar. Kesalahan Ayah ke kamu terlalu banyak."
Renza membeku.
Untuk beberapa detik, ia hanya menatap laki-laki di hadapannya. Ia sudah membayangkan banyak kemungkinan sebelum datang ke tempat ini. Darma mungkin akan marah. Mungkin menyalahkannya. Mungkin juga akan bersikap seolah tidak pernah terjadi apa-apa lalu memaksanya ikut pulang ke Jogja. Tapi kenyataannya, yang terjadi tak seperti bayangannya.
"Itu Ayah beliin beberapa barang," kata Darma sambil mengedikkan dagunya ke arah kedua tas tersebut. Jari-jemarinya saling bertaut di atas lutut.
"Kamu terima, ya, Za!"
Renza menatap kedua tas itu sebentar.
"Hm," gumamnya.
Tidak ada senyum. Tidak ada ucapan terima kasih. Namun setidaknya gadis itu tidak benar-benar langsung menolaknya mentah-mentah.
"Kalo ukurannya kurang pas, bisa ditukar ke tokonya. Di situ ada kertas garansinya," imbuh Darma.
Renza tak menjawab. Ia hanya menarik salah satu tas itu mendekat, kemudian meletakkannya di pangkuan. Sedangkan Darma memperhatikannya dalam diam. Entah kenapa, melihat Renza menerima pemberiannya saja sudah membuat dadanya terasa sedikit lega.
Renza menarik sebuah kartu garansi. Setelah melihatnya sebentar, kertas itu dimasukkannya kembali ke dalam tas kertas.
"Sebenarnya ayah nggak perlu kayak gini," kata Renza datar.
Darma terdiam. Sesaat ruangan itu sunyi, hanya ada suara jarum jam yang berdetak. Beberapa menit sekali, suara kendaraan yang melintas di luar terdengar samar dari balik jendela.
Laki-laki itu mengembuskan napas panjang. Tatapannya jatuh pada kedua tangannya sendiri. "Ayah juga nggak tahu harus mulai dari mana."
Renza tetap diam.
"Selama ini Ayah selalu berpikir..." Darma berhenti sejenak, mencari kata yang tepat. "Mungkin suatu hari nanti, kalau keadaan sudah lebih baik, Ayah bisa datang dan menjelaskan semuanya."
Ia tersenyum tipis, tetapi tidak ada sedikit pun kegembiraan di sana. "Ternyata makin lama Ayah pergi, makin susah buat Ayah menjelaskannya."
Renza menunduk. Jemarinya memainkan ujung tas kertas di pangkuannya. "Kenapa?"