"Bang, lo tau?"
Suara Roy membuat Andra menoleh. Ia masih duduk di sofa, tubuhnya sedikit membungkuk. Tatapannya tak lagi tertuju pada pintu kamar tamu, melainkan kepada Roy.
"Renza habis ketemu sama bokapnya," lanjut Roy.
Andra terdiam.
Matanya turun pada kedua tangannya sendiri yang masih bertumpu di atas paha.
"Gue..." Suaranya menggantung.
Ia kembali menatap pintu kamar tamu. Pintu itu masih tertutup rapat. Tidak ada suara apa pun dari baliknya.
Langkah kaki terdengar dari arah tangga. Lela berjalan perlahan sambil membawa setoples kue kering putri salju. Namun langkahnya melambat ketika menyadari suasana ruang tamu yang berbeda dari biasanya.
"Bukannya Renza udah pulang, Roy?" tanyanya. "Sekarang di mana anaknya?"
Roy tak langsung menjawab.
Ia hanya mengedikkan dagu ke arah pintu kamar tamu.
Lela mengikuti arah pandangnya. Tanpa bertanya lagi, perempuan dua puluh tujuh tahun itu berjalan menuju kamar tamu. Tangannya meraih gagang pintu, lalu membukanya perlahan. Ia masuk dan menghilang di baliknya.
Di dalam kamar, Renza sedang tengkurap membelakangi pintu. Wajahnya setengah tertutup bantal. Rambutnya berantakan, sementara kedua tangannya memeluk guling kuat-kuat. Lela menutup pintu pelan. Ia tidak langsung bertanya.
Perempuan itu hanya berjalan mendekat, meletakkan toples kue di atas nakas, kemudian duduk di sisi tempat tidur. "Za," panggilnya pelan.
Renza tidak menjawab, hanya melirik perempuan di sisinya sekilas. Lela menunggu beberapa detik sebelum tangannya menyentuh pundak gadis itu.
"Teh Lela, mau marahin Renza juga?"
Suara Renza terdengar serak.
Lela tersenyum kecil, "enggak."
Tangannya mengusap pundak gadis itu sekali. "Teteh cuma pengen denger cerita kamu, aja. Kan, kemarin habis jalan-jalan."
Gadis itu kembali membenamkan wajahnya ke bantal.
"Apa mau cerita di balkon atas aja, sambil makan kue putri salju," rayu Lela.
Renza mengangkat wajah sedikit, lalu beranjak duduk. Ditatapnya toples kue kering di atas nakas, kemudian beralih pada Lela. Ada keraguan di sana. Seolah gadis itu masih ingin mempertahankan wajah kesalnya, tetapi ajakan sederhana itu membuat pertahanannya sedikit runtuh.
"Kuenya baru mateng loh, Za. Pasti enak banget kalo sambil minum kopi di atas," usul Lela.
Renza akhirnya menghela napas. Tanpa berkata apapun, remaja enam belas tahun itu turun dari tempat tidurnya lalu meraih toples di atas nakas. Dipeluknya toples itu erat-erat. Ia kemudian mengangguk kecil, memberi isyarat pada Lela untuk segera melaksanakan rencana tadi.
Lela tersenyum lega. Perempuan itu mengikuti langkah Renza yang sudah bergerak menuju pintu. Di luar sana masih ada Andra dan Roy. Namun sepertinya Renza tak mempedulikannya.
Gadis itu akhirnya tiba di lantai atas. Sebuah dapur mini tempat Lela biasa nongkrong itu masih berbau aroma kue kering. Sedangkan di seberangnya terdapat banyak pot dalam beragam ukuran.
"Me time-nya Teh Lela ya di sini, Za. Masak-masak sambil lihat bunga. Rasanya tenang... banget. Terus nanti makannya di balkon, hm. Nikmat banget pokonya deh," terang Lela saat pertama kali Renza menginjakkan kaki di lantai atas beberapa tahun lalu.
"Renza mau kopi atau coklat dingin?" Lela yang sudah sampai di lantai atas segera melenggang ke arah dapur mini itu. Tangannya langsung membuka pintu kulkas teratas, kemudian mengeluarkan es batu berbentuk kubus.
"Coklat," kata Renza pendek.
"Siap Nona," sahut Lela riang. Berharap gadis itu akan ikut mencair.
Lela membuka salah satu lemari kecil di bawah meja, mengambil gelas, lalu memasukkan beberapa bongkah es ke dalamnya. Renza memperhatikan dari ambang pintu sambil masih memeluk toples kue di dadanya.
"Teh Lela tadi denger, waktu Abang ngamuk ke Renza?" tanyanya tiba-tiba.
Lela menoleh.
"Sedikit," jawabnya dengan tangan yang mulai meracik coklat bubuk dan krimer pada teko kecil.
"Kan, tadi Teteh lagi bikin kue. Jadi nggak terlalu kedengeran, Za. Suara Abang kamu kalah sama mixer," imbuhnya sambil terkekeh pelan.
Renza tersenyum tipis. Kakinya lalu beranjak menuju balkon. Semilir angin langsung menyambut kedatangannya. Membuat poni gadis itu sedikit terombang-ambing menggelitiki pangkal hidung dan sekitar kelopak matanya.
Lela menyusul beberapa saat kemudian. Di tangannya ada dua gelas coklat dingin. Satu diletakkannya di hadapan Renza, sementara satu lagi ia bawa untuk dirinya sendiri.
"Nih."
Renza mengangguk kecil.
"Makasih, Teh."
Lela menarik kursi di sebelahnya. Ia tidak langsung duduk. Perempuan itu justru berdiri sambil memandang tanaman dan bunga yang berjajar di sepanjang balkon.
"Bagus, ya?"
Renza ikut melihat ke depan. "Tanamannya?"
"Iya."
Renza mengangguk.
"Bagus."
Lela tersenyum puas, kemudian baru duduk.