Langit sudah berubah gelap. Arman mengemudi motor dengan hati-hati, sesekali mengurangi kecepatan ketika melewati jalan yang ramai. Sedangkan Renza masih termenung di jok belakang.
Sejak keluar dari kantor polisi, gadis itu nyaris tidak mengatakan apa-apa. Kedua tangannya hanya berpegangan pada sisi jok, sementara pikirannya terus kembali pada sosok Firman yang tadi sempat mereka temui.
Tadi setelah Arman masuk ke ruang pemeriksaan, petugas akhirnya memanggil Renza untuk ikut masuk. Mereka diberi waktu lima belas menit untuk menemui Firman.
Lima belas menit.
Entah kenapa, waktu sesingkat itu terasa begitu lama sekaligus terlalu cepat. Renza masih bisa mengingat jelas wajah Firman saat mereka masuk. Anak yang biasanya banyak bicara itu hanya duduk diam, menundukkan kepala, dan sesekali menjawab pertanyaan mereka dengan suara pelan.
"Gue sama sekali nggak berniat buat nyeret lo ke dalam masalah gue, Bos," kata Firman ketika Renza bertanya kenapa ia mengajaknya ke pantai, padahal saat itu ia memang hendak melakukan transaksi barang terlarang.
"Ya... gue pikir, biar sekalian jalan aja," lirihnya.
Plak!
Tamparan Arman mendarat begitu saja di pipi kanan Firman, tepat ketika ia menyelesaikan ucapannya.
"Pir, gue nggak habis pikir deh, sama lo."
Renza langsung menoyor kepala Arman. Ditatapnya sepupu Firman itu lekat-lekat. "Nggak usah main tangan, bisa?"
Di luar ruangan, petugas yang mengawasi mereka langsung melemparkan lirikan tajam.
"Hey! Jangan ribut kalian!" tegurnya sambil mengacungkan jari telunjuknya kepada tiga remaja di dalam ruangan.
Renza segera menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada, seolah meminta maaf.
Arman menatap Renza dengan dada naik turun. "Sorry, Za. Gue kebawa emosi," ujarnya, lalu membuang pandangan ke arah lain.
Renza mendengkus. Tangannya menepuk pelan bahu kanan Arman sekali.
"Lo diem dulu. Biarin dia selesai ngomong," tukasnya seraya menunjuk Firman dengan dagu.
Arman mengangguk kecil.
Remaja berkemeja biru itu masih menunduk. Jemarinya saling meremas di atas meja. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia kembali membuka suara.
"Dari awal kenal lo, gue selalu ngerasa nasib kita sama, Bos. Lo ditelantarin, gue juga terlantar. Kita sama-sama nggak punya orang tua. Dan gue..."
Ucapan Firman terhenti karena batuk.
"Uhuk."
Ia menunduk sebentar sebelum kembali melanjutkan.
"Gue udah anggep lo kayak kakak gue sendiri, Bos. Jadi gue cuma pengen kasih tahu lo setiap gue nemu tempat yang bagus. Cuma, kemarin waktunya emang nggak tepat. Gue udah terlanjur salah jalan dan nggak tahu caranya berhenti."
Renza menelan ludah.
"Kalau lo nganggep gue kakak, kenapa lo nggak cerita ke gue soal masalah lo, Pir?"
Firman menyeka hidungnya yang mulai berair sebelum menjawab.
"Gue nggak mau nyusahin lo, Bos. Jadi gue pengen hadapi sendiri. Gue nggak mau lo lihat gue yang lemah di segala hal."