Galendra

Ooza
Chapter #19

The End

Jam dinding bulat yang menggantung di ruang tamu rumah Roy baru menunjukkan pukul empat subuh. Begitu bangun Andra segera mengecek ponselnya. Ada beberapa pesan pendek dari Lela yang memberitahu bahwa Renza semalam tidak tidur di sana dan sudah pamit untuk kembali ke kontrakannya.

Deg.

Andra langsung teringat bahwa beberapa hari lalu Darma pernah berkata padanya akan pulang ke Jogja hari ini. Laki-laki itu segera membangunkan Roy untuk mengantarnya pulang, memastikan Renza tidak sungguh-sungguh pergi bersama Darma.


"Masih ngantuk gue, Bang," protes Roy dibalik selimutnya.

Andra menyalakan lampu kamar Roy.

"Lo nggak mau 'say good bye' sama Renza? Hah!"

Mendengar ucapan Andra, laki-laki dua puluh tiga tahun itu langsung terduduk. Ia mengucek-ngucek matanya beberapa kali.

Roy menatap Andra, memastikan bahwa ia salah dengar. "Lo bilang apa, Bang?"

"Renza kayaknya hari ini berangkat ke Jogja, ikut ayahnya," jelas Andra sambil melangkah ke luar kamar.

Roy yang setengah panik setengah sadar bergegas turun dari tempat tidurnya. Ia meraih jaket dan kunci motor yang tergantung di kapstok belakang pintu kemudian mengejar langkah Andra.


"Ini, kita nggak mau ngopi dulu Bang?" Roy memakai jaketnya dengan gerakan tidak sabar, alhasil tangannya malah meleset dari lengan jaket beberapa kali.

Andra yang sudah berdiri di samping motor Roy tampak berkaca pinggang. Ia menghela napas panjang sebelum bicara.

"Takutnya, nggak keburu kalo ngopi dulu."

Roy mendengkus pelan, "tapi nyawa gue belum kumpul, Bang."

Andra menyeringai. "Bodo amat!"

Tangannya lalu meraih helm di spion motor dan segera memakainya. "Lo nggak ikut juga nggak apa-apa, Roy."

Roy tertawa kecil.

"Ikutlah, Bang. Kalo nggak, pasti ntar Renza nanyain gue," ujarnya dengan percaya diri.

Andra berdecih.

Usai jaketnya terpasang dengan benar Roy bergegas meraih helm di spion lain lalu memakainya. Kemudian laki-laki itu duduk di jok belakang usai menyerahkan kunci motor kepada Andra.


Setelah beberapa menit Andra melaju dengan kecepatan maksimal akhirnya mereka tiba di pelataran rumah kontrakannya.

"Buseettt, Bang. Lo kayak orang kesetanan bawa motornya," oceh Roy saat melepas kaitan helmnya.

"Brisik lo kalo baru bangun tidur," kata Andra yang sudah berjalan ke arah pintu.

Ceklek.

Andra membuka pintu kontrakan pelan.

"Za!" panggilnya sambil celingukan.

Lihat selengkapnya