Jantung Galuh berdegup kencang. Ia meremas gagang pisau sadapnya. Langkahnya yang tadi ragu-ragu kini menjadi pasti. Ia tahu apa yang harus ia lakukan. Penyesalan di ranjang kematian tadi terasa sangat jauh, tergantikan oleh api keberanian yang menyala-nyala dalam dadanya.
"Galuh! Kau mau ke mana?" Neneknya berteriak bingung.
"Sebentar, Nek! Ada sesuatu yang harus aku pinjam!"
Galuh berlari melewati semak-semak yang masih basah. Ia tidak peduli jika tapih behalainya terkena lumpur. Ia tidak peduli jika neneknya marah, yang ia tahu, di depan sana, di tangan Dayang, ada kunci untuk memahami surat Adnan. Ada kunci untuk memahami hidupnya sendiri.
Ia berhenti beberapa meter dari tempat Dayang duduk. Napasnya putus-putus, tetapi matanya bersinar. Dayang menoleh, tampak terkejut melihat salah satu gadis penyadap karet di perkebunan ayahnya berdiri di sana dengan wajah yang penuh tekad.