GALUH

Muala
Chapter #2

Tujuh Menit yang Dicuri

Napasnya datang satu-satu, berat dan pendek, seolah-olah udara dalam kamar ini telah berubah menjadi timah yang memenuhi paru-paru.


Galuh menatap langit-langit kamar yang putih pucat. Di sana, bayangan kipas angin yang berputar lambat tampak seperti pusaran waktu yang hendak menelannya. Ia tahu ini adalah akhirnya. Tubuhnya yang berusia tujuh puluh satu tahun sudah menyerah pada keletihan usia.


"Ibu? Ibu bisa dengar suara Sari?"


Suara lembut itu berasal dari samping tempat tidur, Galuh menggerakkan matanya sedikit. Sari, putri sulungnya, sedang menggenggam tangannya yang keriput dan dingin. Wajah Sari tampak buram di balik selapis air mata yang belum tumpah.


"Sari...," bisik Galuh. Suaranya pecah, hampir tidak terdengar di tengah bunyi bip teratur dari monitor jantung di sudut ruangan.


"Iya, Ibu. Sari di sini. Dokter bilang Ibu harus banyak istirahat."


Galuh ingin tersenyum, tetapi otot wajahnya terlalu kaku.


Istirahat?


Ia sudah akan beristirahat untuk selamanya. Namun, ada satu hal yang terus mencubit dadanya lebih perih daripada jarum infus yang menusuk kulit. Sebuah rasa sesal yang mengendap selama puluhan tahun, seperti kerak di dasar kuali yang tak pernah terangkat.


"Surat itu ...." Galuh mencoba bicara lagi. Setiap kata terasa seperti duri yang tersangkut di tenggorokannya.


"Surat yang mana, Bu?" Sari mendekatkan telinganya ke bibir sang ibu. "Surat lama yang Ibu simpan di bawah bantal itu?"


Galuh mengedipkan mata sekali, mengiyakan. Sari meraih sebuah kertas yang sudah menguning dan rapuh dari atas meja nakas. Kertas itu terlipat rapi, dengan ujung-ujungnya yang sudah menipis dimakan waktu. Di dalamnya, ada barisan tinta hitam yang sudah memudar.


"Ini surat dari Ayah, kan?" tanya Sari pelan.


Galuh terdiam. Ia tidak tahu. Itulah masalahnya. Sepanjang hidupnya, ia menyimpan surat itu seperti jimat, mencium aromanya yang berbau tanah dan kenangan, tetapi ia tidak pernah benar-benar tahu apa yang tertulis di sana. Ia buta aksara. Seumur hidupnya, huruf-huruf hanya tampak seperti cacing-cacing hitam yang menari-nari tanpa makna. Ia menghabiskan masa mudanya di bawah bayang-bayang perang, di tengah hutan karet, tanpa pernah menyentuh bangku sekolah.

Lihat selengkapnya