'Aku kembali,' pikir Galuh. Jantungnya berdegup kencang. 'Aku benar-benar kembali. Apakah tujuh menit di masa depan setara dengan berhari-hari di masa lalu?'
"Nenek, apakah Dayang akan datang ke kebun hari ini?" tanya Galuh cepat. Ia teringat pada satu-satunya orang yang memiliki akses ke buku-buku di perkebunan ini.
"Putri Tuan Pemilik Kebun itu? Mana Nenek tahu. Biasanya dia memang suka berjalan-jalan di tepi sungai kalau pagi. Kenapa kau mencarinya? Kau kan hanya penyadap, jangan terlalu banyak bergaul dengan anak orang kaya. Nanti kau lupa diri."
Galuh tidak mempedulikan peringatan neneknya. Ia menyambar pisau sadap yang terletak di sudut ruangan. Matanya tertuju pada selembar kertas pembungkus tembakau milik kakeknya yang tergeletak di lantai. Di sana ada beberapa huruf cetak yang kasar.
Ia menunduk, mencoba memfokuskan matanya. Huruf itu masih tampak asing, tetapi kali ini, ia tidak akan membiarkannya lewat begitu saja. Ia memiliki tujuan. Ia harus mencari Adnan. Ia harus bisa membaca nama itu dengan matanya sendiri sebelum waktu pinjaman ini habis.
"Galuh! Ayo!" teriak Nenek dari luar rumah kayu mereka yang sederhana.
"Iya, Nek! Aku datang!"
Galuh melangkah keluar, cahaya subuh menyapa wajahnya. Embun masih bergelantungan di ujung daun-daun karet. Hutan itu tampak seperti labirin raksasa yang menyimpan rahasia masa depannya. Galuh merasakan semangat yang belum pernah ia rasakan selama puluhan tahun.
Ia berjalan mengikuti langkah neneknya menuju kebun karet. Di dalam benaknya, ia terus mengulang-ulang janjinya. Ia tidak akan membiarkan kesempatan kedua ini terbuang. Jika ia hanya punya waktu yang dicuri dari ajalnya, maka ia akan memastikan setiap detiknya berarti.
"Nek," panggil Galuh di tengah perjalanan. "Apakah menurut Nenek, orang sepertiku ... orang yang hanya tahu menyadap karet ... bisa belajar membaca?"
Neneknya berhenti melangkah, lalu menoleh. "Membaca? Untuk apa? Kau ingin jadi guru? Kita ini orang kecil, Galuh. Tugas kita adalah bertahan hidup. Perut yang lapar tidak bisa dikenyangkan dengan huruf-huruf di atas kertas."
"Tapi dunia ini luas, Nek. Dan banyak hal yang tidak bisa kita mengerti hanya dengan mendengar kata orang."
Neneknya mendengus, lalu melanjutkan berjalan. "Jangan aneh-aneh. Fokus saja pada pohon karetmu. Kalau sadapanmu tidak bagus, kita tidak makan besok."
Galuh terdiam, tetapi ia tidak menyerah. Ia melihat ke sekeliling, pada batang-batang pohon karet yang berjajar rapi. Di salah satu pohon, ia melihat sebuah tanda yang dipaku. Sebuah papan kayu kecil dengan tulisan cat putih yang sudah mengelupas.