GALUH

Muala
Chapter #4

Pendidikan Adalah Kemewahan yang Tidak Masuk Akal

"Galuh! Jangan melamun terus!" teriak Nenek dari jarak tiga pohon. "Lihat sayatanmu! Terlalu dalam! Kau bisa merusak pohonnya!"

Galuh tersentak. Benar saja, ia hampir memotong bagian kayu pohon tersebut. "Maaf, Nek! Aku akan lebih hati-hati."

Ia memaksakan dirinya untuk fokus pada rutinitas. Pohon demi pohon ia kerjakan. Langkahnya sigap, matanya tajam mengamati sekitar. Ia melihat dunia ini dengan perspektif baru. Ia memperhatikan bagaimana para mandor, baik pribumi dan beberapa mandor Belanda yang tersisa masih sering berpatroli dengan wajah tegang, seolah-olah mereka tahu kekuasaan mereka sedang di ujung tanduk.

Sekitar pukul sembilan pagi, saat matahari mulai menyengat tengkuk, Galuh melihat sebuah mobil jeep melintas di jalan utama perkebunan. Mobil berhenti di jalan besar. Seorang gadis turun dari mobil tersebut. Ia memakai rok selutut yang sopan dan blus putih bersih. Rambutnya ditata rapi. Di tangannya, ia memeluk beberapa buku tebal.

"Itu Diyang Dayang," bisik Danum yang kebetulan sedang mengosongkan kaleng getah di dekat Galuh.

Galuh menghentikan pekerjaannya. Ia mengamati Dayang dari balik rimbunnya daun pohon karet. Dayang tampak begitu tenang, begitu berpendidikan. Perbedaan status sosial di antara mereka terasa seperti jurang yang sangat lebar.

Bagaimana mungkin seorang buruh sepertinya bisa dekat dengan putri pemilik kebun dan meminta sesuatu yang begitu berharga seperti ilmu pengetahuan?

"Beruntung sekali ya jadi dia," gumam Danum. "Bisa membaca semua buku itu. Pasti dia tahu banyak rahasia tentang dunia."

"Kau ingin bisa membaca juga, Da?" tanya Galuh.

Danum tertawa kecil, nada suaranya mengandung kepahitan. "Untuk apa? Huruf-huruf itu tidak bisa dimakan, Galuh. Lebih baik aku tahu cara memasak ubi agar tidak cepat busuk."

Danum berlalu, membawa lanjungnya yang berat. Galuh tetap terpaku di tempatnya. Kalimat Danum adalah cerminan pikiran hampir semua orang di perkebunan ini. Pendidikan adalah kemewahan yang tidak masuk akal bagi mereka yang perutnya sering keroncongan. Namun, Galuh tahu lebih baik. Ia sudah merasakan penyesalan di akhir hayatnya. Penyesalan itu lebih sakit daripada rasa lapar.

Ia melihat Dayang berjalan menuju sebuah bangku taman di tepi kebun, tidak jauh dari batas blok tempat para pekerja. Dayang duduk di sana, membuka salah satu bukunya, dan mulai tenggelam dalam bacaan.

'Sekarang atau tidak sama sekali,' batin Galuh.

Ia melihat ke bawah, menatap pakaiannya sendiri. Tapih behalainya kusam, penuh noda hitam dari getah karet yang sudah mengering. Lengannya berkilat karena peluh. Ia merasa sangat kotor dibandingkan dengan Dayang yang tampak seperti bunga melati di tengah hamparan tanah cokelat.

Galuh melangkah perlahan. Setiap langkah terasa berat, seolah-olah ada beban ribuan ton yang mengikat kakinya.

"Mau ke mana kau, Galuh?" suara Nenek menghentikannya.

Galuh menoleh. Nenek sedang menyeka keringat di dahinya dengan ujung baju. Matanya yang tajam menatap Galuh dengan penuh selidik.

"Aku... aku haus, Nek. Mau ke pinggir kebun sebentar untuk ambil air," Galuh berbohong.

Nenek mendengus. "Haus atau gatal ingin melihat rumah besar? Jangan cari perkara. Para penjaga sedang sensitif belakangan ini. Kembali bekerja."

Lihat selengkapnya