Semua buruh menghentikan pekerjaan mereka. Wajah-wajah yang tadinya tenang kini berubah menjadi pucat pasi.
"Ada apa itu?" tanya Danum ketakutan.
Seorang mandor pribumi berlari dari arah kantor, wajahnya penuh keringat. "Cepat kembali ke barak! Ada patroli Belanda yang masuk ke wilayah ini! Mereka mencari orang-orang yang dicurigai terlibat dalam pergerakan!"
Kepanikan mulai melanda. Orang-orang berlarian menyelamatkan bakul dan peralatan mereka. Nenek segera menarik tangan Galuh.
"Ayo, cepat! Jangan berdiri di sana seperti patung!"
Galuh mengikuti langkah Nenek, tetapi matanya tetap melirik ke arah Dayang duduk, yang sekarang telah kosong, lalu rumah besar di atas bukit. Ia melihat beberapa kendaraan militer berwarna hijau tua mulai memasuki halaman rumah Dayang.
'Waktuku sedang berjalan,' batin Galuh dengan ngeri. 'Perang sedang mendekat dan aku belum bahkan mengenal huruf pertama.'
Ia meraba dadanya, merasakan detak jantung yang masih kuat. Jika ini adalah tujuh menit terakhir dalam hidupnya yang asli, maka setiap detik di sini adalah peperangan. Ia tidak akan membiarkan patroli Belanda atau ketakutannya sendiri menghentikannya.
"Nenek, pulanglah dulu!" teriak Galuh di tengah hiruk-pikuk.
"Kau mau ke mana lagi?!" Nenek berteriak marah.
"Ada sesuatu yang tertinggal!"
Galuh melepaskan pegangan tangan Nenek dan berlari melawan arus kerumunan buruh yang ketakutan. Ia tidak menuju gubuk. Ia menuju arah rumah besar, menuju tempat ia berjanji akan bertemu dengan Dayang.
Suara tembakan peringatan terdengar di kejauhan, membuat burung-burung di hutan terbang berhamburan. Galuh tidak berhenti. Ia terus berlari, napasnya memburu, matanya hanya tertuju pada satu titik.
Di balik semak-semak dekat taman, ia melihat Dayang sedang ditarik paksa oleh seorang wanita yang lebih tua, untuk segera masuk ke dalam rumah. Pintu besar itu hampir tertutup.
"Diyang Dayang!" teriak Galuh, meskipun suaranya tenggelam oleh deru mesin truk militer.
Dayang sempat menoleh ke arah Galuh sebelum pintu benar-benar tertutup. Matanya mencari-cari di antara pepohonan. Galuh mengangkat tangannya tinggi-tinggi.