GALUH

Muala
Chapter #6

Aksara Pertama

Galuh menoleh dan melihat Dayang berdiri di ambang pintu belakang rumah besar. Wajahnya pucat, tetapi sorot matanya tajam. Ia melangkah turun dengan angkuh, mengabaikan debu yang mengotori sepatunya yang bersih.

"Dia pelayanku," bohong Dayang tanpa berkedip. "Buku itu milikku. Aku menyuruhnya membawanya ke dapur karena aku ingin membacanya sambil menunggu teh."

Serdadu itu menatap Dayang, lalu menatap buku itu kembali. "Nona, ini situasi perang. Gadis ini bertingkah mencurigakan di belakang rumah."

"Dan aku adalah putri pemilik perkebunan ini. Ayahku sedang berbicara dengan komandanmu di depan. Apa kau ingin aku memanggil mereka ke sini untuk mengurusi masalah buku tua yang tidak berguna ini?"

Serdadu itu mendengus, tampak ragu. Kehadiran Dayang jelas mengusik otoritasnya. Dengan kasar, ia melemparkan buku itu ke arah Galuh.

"Jaga pelayanmu baik-baik, Nona. Lain kali, aku tidak akan segan menembak siapa pun yang berkeliaran di sini," ancamnya sebelum berbalik dan pergi menuju halaman depan.

Galuh segera memungut buku itu, memeluknya erat-erat seolah benda itu adalah bayi yang baru saja selamat dari maut. Napasnya masih memburu. Ia menatap Dayang yang kini berdiri di hadapannya dengan napas yang juga tampak berat.

"Terima kasih, Diyang...," bisik Galuh.

"Masuklah ke gudang di bawah tangga," perintah Dayang cepat. "Cepat, sebelum mereka kembali."

Galuh mengikuti instruksi itu tanpa bertanya. Gudang itu gelap dan berbau kayu tua serta rempah-rempah. Tak lama kemudian, Dayang menyusul masuk dan menutup pintu kayu yang berat itu rapat-rapat. Keheningan mendadak menyelimuti mereka, hanya diselingi suara samar langkah sepatu laras di luar.

"Kau hampir mati, Galuh," bisik Dayang. Ia menyandarkan punggungnya ke pintu, tangannya gemetar.

"Saya tahu. Maafkan saya, Diyang. Saya tidak bermaksud menyulitkan Diyang."

Dayang menatap Galuh dalam kegelapan yang temaram. "Kenapa kau begitu nekat? Aku memberimu buku itu agar kau simpan, bukan untuk kau pamerkan di depan serdadu."

"Saya tidak memamerkannya. Saya hanya ingin segera melihat isinya," Galuh menunduk. "Saya melihat Tuan Adnan dibawa di dalam truk. Mereka menangkapnya, Diyang."

Mata Dayang membelalak. "Abang Adnan? Abang baru sampai tadi pagi. Kau yakin, Galuh?"

"Saya melihatnya sendiri. Wajahnya memar. Jika dia ditangkap, maka surat itu...." Hampir saja Galuh bercerita waktu yang dicurinya.

Dayang terdiam sejenak. Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. "Situasi semakin gawat. Belanda sedang menyisir seluruh desa. Belajar membaca sekarang adalah hal paling berbahaya yang bisa kau lakukan."

Lihat selengkapnya