GALUH

Muala
Chapter #7

Tangan Pejuang

"Kenapa b dan d harus berbeda, Diyang? Mereka hanya saling membelakangi," keluh Galuh frustrasi. "Lalu p dan q... ini seperti sedang mempermainkan mata saya."

Dayang terkekeh pelan. "Itulah uniknya aksara. Sedikit saja kau salah melihat arah, maknanya akan berubah total. Sama seperti hidup, bukan? Salah sedikit mengambil langkah, kau bisa berakhir di tempat yang berbeda."

Galuh menatap huruf-huruf itu dengan rasa benci sekaligus rindu. "Tangan saya terlalu kasar untuk ini. Lihatlah, Diyang. Jari-jari saya tidak bisa melengkung dengan benar. Bekas getah ini membuat kulit saya tebal."

Dayang meraih tangan Galuh. Ia mengusap telapak tangan yang penuh kapalan itu dengan lembut. "Tangan ini adalah tangan pejuang, Galuh. Jangan pernah malu padanya. Tanpa tangan-tangan kasar seperti ini, orang-orang di kota tidak akan bisa menulis di atas kertas yang mahal. Huruf-huruf ini seharusnya bangga bisa ditulis oleh tanganmu."

Galuh tertegun. Ia merasakan kehangatan yang menjalar dari tangan Dayang. Rasa rendah diri yang selama ini menghimpitnya perlahan mulai menipis.

"Mari kita coba lagi," ajak Dayang. "Eja kata ini. M-E-R-D-E-K-A."

"M... E... R... D... E... K... A...." Galuh mengeja pelan. "Merdeka."

"Kau tahu artinya?"

"Artinya... kita bisa pergi ke mana saja tanpa rasa takut? Artinya tidak ada lagi serdadu yang menodongkan senapan?"

"Merdeka artinya kau punya hak untuk menentukan nasibmu sendiri, Galuh. Termasuk hak untuk membaca surat cinta dari siapa pun."

Mereka berdua tertawa kecil, sebuah momen kebahagiaan yang langka di tengah bayang-bayang perang. Namun, tawa itu terhenti saat mereka mendengar suara langkah kaki mendekat ke arah gudang asap.

"Galuh! Kau di sana?" suara Nenek memanggil.

Galuh segera menyembunyikan bukunya. "Iya, Nek! Aku sedang merapikan kayu bakar!"

"Cepat pulang! Ada pengumuman di balai desa! Katanya ada daftar nama yang ditempel!"

Jantung Galuh berdegup kencang. Daftar nama. Apakah itu daftar tawanan? Ataukah daftar orang-orang yang akan dikirim ke Jawa?

Ia menatap Dayang dengan tatapan memohon. Dayang mengangguk, seolah mengerti apa yang ada di pikiran sahabatnya itu.

"Pergilah. Gunakan apa yang sudah kau pelajari," bisik Dayang.

Galuh berlari menuju balai desa. Kerumunan orang sudah berkumpul di sana, berdesak-desakan di depan sebuah papan kayu besar. Para serdadu Belanda berjaga di sekeliling dengan wajah masam.

Galuh mencoba merangsek ke depan. Napasnya terengah-engah. Matanya mencari-cari barisan tulisan di atas kertas putih yang ditempel kasar dengan lem kanji.

Dulu, kertas itu hanya akan tampak seperti coretan hitam tak bermakna baginya. Namun sekarang, dunia itu mulai terbuka. Ia melihat huruf-huruf itu menari-nari.

"D... A... F... T... A... R..."

Ia mengeja kata pertama. Daftar.

Matanya menelusuri barisan nama di bawahnya. Satu per satu. Huruf demi huruf. Ia merasa kepalanya berdenyut karena harus memproses begitu banyak informasi dalam waktu singkat.

"Mana suamiku? Apa namanya ada di sana?" teriak seorang wanita di sampingnya.

Lihat selengkapnya