GALUH

Muala
Chapter #9

Bayang-Bayang Adnan

"Pengumuman," eja Galuh dengan susah payah.

"Bagus. Lanjutkan bagian bawahnya."

Galuh menelan ludah. Huruf-huruf di bawahnya lebih kecil dan lebih rapat. Ia mulai merasa frustrasi. Mengapa proses ini terasa begitu lambat? 

Di luar sana, kapal yang membawa Adnan sudah semakin jauh. Tentara Belanda mungkin sedang merencanakan serangan baru. Sementara dia, di sini, masih bergulat dengan perbedaan antara huruf b dan d.

"Ini terlalu lambat, Diyang!" Galuh meremas pinggiran kertas itu. "Perang bergerak lebih cepat daripada kepalaku. Jika saya butuh waktu satu jam hanya untuk membaca satu kalimat, bagaimana saya bisa menyelamatkan yang lain?"

"Belajar tidak bisa dipaksa, Galuh. Kau sudah melakukan kemajuan besar." Dayang mencoba menenangkan.

"Kemajuan tidak cukup jika maut sedang mengintai, Diyang! Saya harus bisa membaca daftar logistik, saya harus bisa membaca arah perjalanan kapal itu, saya harus bisa membaca...." Suara Galuh meninggi, penuh dengan keputusasaan yang meluap.

"Kau harus bisa membaca apa? Hati Bang Adnan?" tanya Dayang lembut, mencoba tidak tertawa saat menggoda Galuh.

Galuh terdiam. Ia menunduk, memandangi jemarinya yang kasar. Motivasi awalnya memang hanya ingin tahu nama pria itu. Namun sekarang, setelah melihat kekacauan di dermaga, setelah melihat teman-temannya menangis karena tidak tahu nasib keluarga mereka, Galuh menyadari sesuatu. Aksara bukan sekadar kumpulan garis. Aksara adalah senjata. Aksara adalah peta menuju keselamatan.

"Saya ingin tahu segalanya, Diyang," bisik Galuh. "Saya tidak ingin lagi menjadi orang yang hanya bisa menunggu instruksi dari mulut orang lain. Saya ingin tahu apa yang mereka rencanakan terhadap kami sebelum mereka benar-benar melakukannya."

Dayang mengangguk paham. Ia mengambil kembali kertas maklumat itu. "Kalimat di bawahnya berbunyi: Semua penduduk dilarang mendekati area pesisir setelah pukul enam sore. Pelanggaran akan berakibat pada tindakan tegas."

"Tindakan tegas," ulang Galuh. "Mereka akan menembak siapa saja."

"Tepat. Dan ada satu hal lagi. Di bagian paling bawah, ada catatan kecil tentang pemindahan tawanan lanjutan."

Jantung Galuh berdegup kencang. "Lanjutan? Jadi masih ada yang tersisa di sini?"

"Beberapa orang yang dianggap terlalu lemah untuk perjalanan jauh dibawa ke pos pengamatan di Tanjung Keluang. Mereka akan dieksekusi atau dijadikan buruh paksa di sana." Dayang menatap mata Galuh dengan serius.

Galuh merasakan dorongan adrenalin yang luar biasa. Jika ada daftar lain, jika ada informasi tentang siapa saja yang dibawa ke Tanjung Keluang, ia harus bisa menemukannya. Ia harus bisa membacanya sendiri untuk memastikan kakek atau teman-teman penyadap lainnya tidak ada di sana.

"Ajari saya lagi, Diyang. Jangan berhenti. Saya tidak peduli jika mata saya pedih atau kepala saya mau pecah. Berikan saya lebih banyak kata."

Selama sisa malam itu, di dalam gudang yang pengap, Galuh seolah berubah menjadi spons yang haus akan air pengetahuan. Ia tidak lagi mengeluh. Ia mengikuti setiap petunjuk Dayang dengan ketekunan seorang prajurit. Ia belajar kata bahaya, pergi, sembunyi, dan lawan.

Setiap kata yang berhasil ia eja terasa seperti kemenangan kecil atas nasib buruknya. Ia mulai memahami pola. Ia mulai menyadari bahwa huruf-huruf itu memiliki suara yang berbisik di dalam kepalanya.

Menjelang subuh, Dayang menghentikan pelajaran. Ia tampak sangat lelah, lingkaran hitam mulai muncul di bawah matanya.

Lihat selengkapnya