"Nek, aku harus ke sana." Galuh mencoba berdiri.
"Kau gila! Itu bunuh diri!" Nenek mencengkeram kain baju Galuh dengan kuat.
"Dayang ada di sana, Nek! Dia yang selama ini membantu kita!"
"Dia punya perlindungan ayahnya! Kau hanya punya nyawamu sendiri!"
Namun, Galuh tidak bisa hanya diam. Ia teringat buku kecil di balik bajunya. Ia teringat janji Dayang untuk mengajarnya lebih banyak lagi. Tanpa Dayang, ia akan kembali menjadi wanita yang buta aksara, wanita yang akan mati dalam penyesalan yang sama seperti di masa depannya yang asli.
"Aku janji akan hati-hati, Nek. Aku tahu jalan tikus lewat parit belakang." Galuh melepaskan cengkeraman Nenek dan mulai berlari sebelum wanita tua itu sempat berteriak lebih keras.
Galuh berlari secepat yang ia bisa. Cabang-cabang pohon menggores lengannya, tetapi ia tidak peduli. Ia sampai di pinggir hutan yang berbatasan dengan kebun karet rumah besar.
Dari sana, ia melihat pemandangan yang mengerikan. Beberapa bagian rumah besar mulai mengeluarkan asap hitam. Tentara Belanda tampak sedang menyeret beberapa orang keluar ke halaman depan.
Galuh merayap mendekat melalui parit yang tertutup rimbunnya semak belukar. Ia harus tahu nasib Dayang.
Saat ia sampai di titik yang cukup dekat, ia melihat Dayang sedang berdiri di antara kerumunan pelayan dan keluarganya. Wajahnya tampak tegar, meski matanya memerah. Di depannya, seorang perwira Belanda sedang memegang sebuah kertas dengan kasar.
Perwira itu meneriakkan sesuatu dalam bahasa Belanda yang tidak dimengerti Galuh. Namun, perwira itu kemudian menunjuk ke arah hutan, tepat ke arah tempat Galuh dan Nenek baru saja mencari obat.
Lalu, perwira itu mengucapkan satu nama yang membuat Galuh seolah tersengat listrik. Nama yang diucapkan dengan logat asing, tetapi sangat jelas di telinga Galuh.
"Adnan Darma!"
Galuh menahan napas. Perwira itu membuang kertas di tangannya ke atas tanah dan memberikan instruksi pada anak buahnya. Mereka mulai bergerak menuju arah hutan dengan senapan yang sudah dikokang. Dayang tampak berteriak, mencoba menghalangi, tetapi ia segera didorong jatuh oleh salah seorang prajurit.
Galuh menatap kertas yang dibuang perwira tadi. Kertas itu terbang tertiup angin dan mendarat hanya beberapa meter dari parit tempatnya bersembunyi. Ini adalah kesempatannya. Jika ia bisa mengambil kertas itu, ia mungkin bisa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia mungkin bisa tahu apakah Adnan masih ada di sekitar sini atau sudah benar-benar pergi.
Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Galuh menjulurkan tangannya keluar dari semak parit. Ujung jarinya menyentuh pinggiran kertas yang kasar. Ia menariknya pelan-pelan ke dalam kegelapan parit.
Di bawah remang-remang bayangan semak, Galuh membuka kertas itu. Jantungnya berdebar begitu kencang hingga terasa sakit. Ia memfokuskan matanya, memanggil seluruh sisa kekuatannya untuk membaca.