Udara di depan mulut gua terasa menyesakkan, berbau mesiu yang menyengat. Galuh tidak merasakan takut; yang ia rasakan hanyalah detak jantungnya sendiri yang berdegup layaknya genderang perang yang hendak pecah. Penglihatannya mulai kabur, pinggiran dunianya memutih—tanda bahwa batas waktu yang diberikan hampir mencapai titik nadir.
'Jangan sekarang,' mohon Galuh.
Perwira Belanda itu mendengus sinis. Matanya yang sedingin es menatap Galuh seolah-olah ia hanyalah seekor kelinci yang tiba-tiba melompat ke tengah sarang serigala.
"Singkirkan gadis bodoh ini, atau dia akan mati bersama anjing pemberontak itu," perintah perwira tersebut dalam bahasa Belanda yang kasar kepada anak buahnya.
Aroma ketegangan masih menggantung rendah di antara pepohonan saat deru peluru lain mulai memecah kesunyian. Namun, kali ini bukan peluru yang mengarah pada Adnan, melainkan peluru yang menghujam barisan prajurit Belanda dari arah pepohonan yang rimbun.
"Serang!" teriak sebuah suara bariton yang menggelegar.
Galuh, yang sempat limbung, merasakan tangan Adnan mencengkeram bahunya erat. Di depannya, sang perwira Belanda yang tadi sombong kini tersungkur dengan lubang peluru di dadanya. Pasukan gerilya desa yang dipimpin oleh tetua hutan muncul dari balik bayang-bayang, mengenakan ikat kepala merah, membawa senapan rampasan yang diselipkan di balik baju.
"Galuh! Kau berhasil mengulur waktu yang cukup!" Adnan terbatuk, darah segar mengucur dari sudut bibirnya.
Galuh hanya bisa mengangguk lemah. Kepalanya terasa berdenyut hebat, sisa dari kekuatan waktu yang ia pinjam. Dunianya sempat goyang, tetapi ia menolak untuk jatuh. Ia melihat pasukan musuh kocar-kacir, terdesak oleh serangan mendadak yang terkoordinasi dengan presisi. Ini bukan lagi sekadar keberuntungan; ini adalah taktik perang.
"Bawa mereka pergi sekarang!" perintah seorang pejuang senior kepada anak buahnya. "Jangan biarkan Belanda mencium jejak kita di sini."
Galuh tidak mampu, dunianya menjadi hitam pekat, tubuhnya limbung ke belakang. Adnan, dengan sisa tenaga terakhirnya, menyambar tubuh Galuh sebelum menghantam tanah.
"Galuh! Bangun!" Adnan mengguncang tubuh gadis itu, tetapi Galuh terkulai tak berdaya.
"Apa yang terjadi pada Galuh?" tanya Dayang panik.
"Dia pingsan," jawab Adnan, menatap wajah Galuh yang pucat.
Di tangan Galuh yang terkepal, masih terselip robekan kertas dengan tulisan "EKSEKUSI". Adnan mengambil kertas itu, membacanya, lalu menutup matanya sejenak. Ia tahu, gadis yang baru saja ia temui kembali ini, bukanlah lagi gadis penyadap karet yang lugu.
"Kita harus pergi dari sini," bisik Adnan, menggendong Galuh di punggungnya dengan susah payah. "Tenang saja, Dayang. Luka ini tidak akan membunuh Abang."