Gang Merpati

Anon1m
Chapter #1

Prolog

Dua belas jam sebelum malam yang menghancurkan itu terjadi, alarm ponsel Rani berdering tepat pukul 05.00 pagi. Dia terbangun di sebuah kamar kos berukuran tiga kali tiga meter di pinggiran Jakarta. Kamar itu sederhana, namun tertata rapi. Rani adalah anak sulung, dan sejak setahun lalu, dia memikul pundak yang berat sebagai harapan utama keluarganya.

Bagi Rani, setiap pagi adalah awal dari perjuangan panjang. Menjadi staf akuntansi di sebuah perusahaan logistik menuntut ketelitian tinggi dan stamina yang prima. Hari itu, jadwal kerja Rani sangat padat. Perusahaan sedang menghadapi audit akhir tahun, yang berarti tumpukan berkas, rekonsiliasi bank, dan laporan laba-rugi harus diselesaikan tanpa boleh ada kesalahan sepeser pun.

Sambil menyeduh kopi instan, Rani menatap cermin. Di balik tubuhnya yang mungil, ada tekad yang sangat besar. Dia merapikan kemeja kerjanya, memakai sepatu flat yang sudah agak aus di bagian tumit, dan melangkah keluar menuju stasiun kereta komuter. Perjalanan menuju kantor selalu menguras energi fisik. Dia harus berdesakan di dalam gerbong kereta yang padat, bertahan di antara ratusan pekerja lain yang sama-sama berwajah lelah. Namun, Rani tidak pernah mengeluh. Di dalam kepalanya, dia selalu menghitung hari-hari menuju tanggal gajian, saat dia bisa mengirimkan sebagian besar penghasilannya untuk biaya sekolah adik laki-lakinya yang baru masuk SMA.

Pukul 08.30, Rani sudah duduk di meja kerjanya. Sejak menit pertama, teleponnya tidak berhenti berdering dan atasannya berulang kali meminta pembaruan data. Jam demi jam berlalu seperti kilatan cahaya yang melelahkan. Rani melewatkan makan siangnya dengan terburu-buru, hanya menyantap roti lapis sambil terus mengetik di depan layar komputer yang membuat matanya perih. Rekan kerjanya, Sinta, sempat memperingatkannya saat jam menunjukkan pukul 17.00.

"Ran, dokumen auditnya masih banyak? Jangan pulang terlalu malam, akhir-akhir ini daerah dekat kosmu agak rawan kalau sudah sepi." kata Sinta dengan nada cemas.

Rani tersenyum tipis, mencoba menenangkan temannya. "Tinggal sedikit lagi, Sin. Kalau tidak aku selesaikan sekarang, besok pagi manajer pasti marah besar. Lagipula, biasanya gang itu ramai oleh pedagang kaki lima."

Namun, perkiraan Rani meleset. Audit yang rumit membuat angka-angka di layarnya tidak kunjung seimbang. Jam dinding kantor terus berputar hingga melewati angka 20.00, lalu 21.00. Ketika Rani akhirnya menekan tombol simpan dan mematikan komputernya, waktu sudah menunjukkan pukul 21.45. Kantor sudah sangat sepi, hanya menyisakan petugas kebersihan dan beberapa satpam di lobi depan.

Rani melangkah keluar gedung dengan tubuh yang sangat letih. Bahunya terasa kaku dan kakinya pegal. Perjalanan pulang menggunakan kereta malam terasa jauh lebih sunyi dibanding pagi hari. Gerbong kereta kini lengang, menyisakan beberapa penumpang yang tertidur pulas karena kelelahan. Rani menatap kaca jendela kereta yang memantulkan wajah lesunya yang pucat. Dia hanya ingin segera sampai di kamar kos, mandi dengan air hangat, dan merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk.

Ketika kereta tiba di stasiun tujuannya pukul 22.30, gerimis tipis mulai turun membasahi bumi. Udara malam terasa sangat dingin dan menusuk tulang. Rani membuka payung kecilnya dan mulai berjalan kaki menuju arah kosnya. Jarak dari stasiun ke kosnya sebenarnya hanya memakan waktu lima belas menit jika melewati jalan pintas. Sebuah gang yang dikenal warga sekitar sebagai Gang Merpati.

Lihat selengkapnya