Gang Merpati

Anon1m
Chapter #2

Rani #1

Aku berjalan semakin cepat di sepanjang Gang Merpati yang sepi itu. Bunyi sepatu sandalku yang basah karena air hujan terdengar jelas di telingaku sendiri. Di sebelah atas, lampu jalan yang berwarna kuning mati-hidup berulang kali. Suaranya berisik dan membuatku merasa tidak nyaman. Di dalam tas kerja yang aku sandang di pundak sebelah kanan, ada sebuah laptop kantor dan tumpukan kertas laporan keuangan. Tadi di kantor, aku harus menyelesaikan laporan audit akhir tahun yang sangat banyak. Angka-angka di komputer tidak cocok sampai berjam-jam, sehingga aku terpaksa pulang terlambat sampai jam sembilan lewat empat puluh lima menit malam. Aku merasa sangat lelah. Pinggangku rasanya kaku dan mataku terasa perih karena terlalu lama menatap layar monitor komputer sejak pagi hari.

Aku memegang gagang payung plastik murah dengan tangan kananku. Tanganku terasa dingin karena angin malam yang bertiup dari depan. Gang Merpati ini adalah jalan pintas yang selalu aku lewati setiap hari jika pulang dari stasiun kereta api. Biasanya, kalau aku pulang jam tujuh malam, gang ini masih ramai sekali. Ada tukang jualan nasi goreng atau martabak yang mangkal di depan pagar seng, ada warung kelontong milik Pak RT yang lampunya terang, dan ada beberapa anak muda yang duduk-duduk sambil bermain handphone. Tetapi malam ini semuanya berbeda. Warung Pak RT juga sudah dikunci rapat dan lampunya dimatikan. Jalanan aspal di dalam gang ini menjadi terasa sunyi dan sepi. Hanya ada bak sampah besar di dekat tembok beton yang baunya tidak enak karena sampah-sampah di dalamnya basah terkena air hujan.

Aku melihat ke arah depan. Di ujung gang, kira-kira seratus meter lagi, jalan raya utama yang besar sudah kelihatan. Di sana ada lampu-lampu mobil dan motor yang lewat, dan suaranya terdengar sampai ke dalam gang. Aku tahu kalau aku sudah sampai di jalan raya itu, aku akan merasa aman. Dari jalan raya itu, rumah kosku hanya tinggal berjarak tiga rumah lagi. Aku hanya perlu berjalan kaki sekitar dua menit lagi untuk bisa membuka pintu pagar kos yang berwarna hijau, lalu masuk ke kamar, mengunci pintu dari dalam, mandi dengan air hangat, dan tidur di atas kasur. Pikiran untuk segera sampai di kamar kos adalah satu-satunya hal yang membuatku terus melangkah, meskipun kakiku sudah terasa sangat pegal dan lemas.

Lihat selengkapnya