Gang Merpati

Anon1m
Chapter #4

Rani #2

Langkah kakiku tidak lagi memiliki keteraturan seperti beberapa menit yang lalu. Setelah motor itu melesat pergi dan menyatu dengan keramaian jalan raya di ujung gang, aku hanya bisa berjalan dengan tubuh setengah membungkuk. Tangan kananku masih memegang payung plastik, tapi posisinya sudah miring ke samping, membuat air gerimis mulai membasahi jilbab dan bagian pundak kiri kemeja kerjaku. Tangan kiriku menempel erat di atas dada, tepat bekas cengkeraman tangan kasar orang asing tadi. Kain kemejaku di bagian itu terasa dingin dan basah, bukan hanya karena air hujan, tapi karena keringat dingin yang mendadak keluar dari seluruh pori-pori tubuhku. Aku berjalan terseok-seok, menatap lurus ke arah gerbang kos yang bercat hijau yang sekarang hanya tinggal berjarak sepuluh meter di depan mata. Jarak yang sangat pendek itu terasa seperti sebuah jembatan yang sangat panjang dan sulit untuk diseberangi.

Ketika tanganku akhirnya menyentuh besi pagar kos yang dingin, seluruh persendian di kakiku rasanya seperti lepas dari tempatnya. Aku mendorong pagar itu pelan-pelan agar tidak menimbulkan suara decitan yang keras yang bisa membangunkan penjaga kos atau penghuni kamar lain yang sudah tidur. Aku melangkah masuk ke dalam area parkiran kos yang sepi, di mana beberapa sepeda motor milik penghuni lain berderet rapi di bawah atap seng. Suara rintik hujan yang menimpa atap seng terdengar sangat bising di telingaku, membuat kepalaku yang sudah pusing menjadi semakin berdenyut. Aku berjalan melewati lorong lantai satu yang remang-remang, menuju ke kamar nomor tiga yang terletak di pojok paling belakang, dekat dengan pohon mangga besar di halaman samping.

Tanganku bergetar hebat saat mencoba memasukkan anak kunci ke dalam lubang pintu kamar kos. Dua kali anak kunci itu meleset dan membentur slot besi dengan bunyi cletok yang nyaring. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan tangis yang sudah mendesak di tenggorokan, lalu memutar kunci itu dengan kedua tangan sampai terdengar bunyi klik. Aku langsung mendorong pintu, masuk ke dalam, dan menutupnya kembali dengan cepat. Aku memutar kunci dari dalam sebanyak dua kali, lalu memasang selot tambahan di bagian atas pintu. Setelah memastikan pintu benar-benar terkunci rapat, aku menyandarkan punggungku di balik daun pintu kayu tersebut. Tubuhku perlahan merosot turun sampai aku duduk bersimpuh di atas lantai ubin yang dingin.

Lihat selengkapnya