Air dingin dari bak mandi terus aku siramkan ke seluruh tubuh tanpa berhenti. Kulit bagian dada dan lenganku sudah terasa perih sekali karena berulang kali digosok memakai sabun batangan dan spons kasar. Aku bisa melihat pantulan air yang mengalir di lantai kamar mandi yang keramiknya berwarna biru muda. Air itu mengalir menuju lubang pembuangan, membawa sisa-sisa busa sabun. Pikiranku masih terasa kacau. Setiap kali suara air yang jatuh ke lantai terdengar agak keras, telingaku seperti mendengar kembali suara motor matic yang kasar itu. Rasa jijik di dalam hatiku tidak mau hilang meskipun aku sudah menghabiskan setengah bak air untuk membersihkan diri.
Setelah merasa tubuhku mulai menggigil karena kedinginan, aku mematikan keran air. Aku mengambil handuk kering yang tergantung di balik pintu kamar mandi, lalu mengeringkan badan dengan gerakan yang terburu-buru. Aku keluar dari kamar mandi dan langsung memakai baju tidur berupa celana panjang dan kaos lengan panjang yang longgar. Aku sengaja memilih baju yang paling tertutup yang aku miliki di dalam lemari pakaian. Aku merasa memakai baju yang tebal dan tertutup bisa memberikan sedikit rasa aman, seolah-olah tubuhku terlindungi dari dunia luar yang menakutkan.
Aku berjalan mendekati meja belajar yang terletak di samping tempat tidur. Di atas meja itu, handphoneku bergetar pelan. Ada satu pesan masuk dari Sinta, teman sekantorku yang sore tadi mengingatkanku untuk tidak pulang terlalu malam. Aku membuka kunci layar handphone dan membaca pesan tersebut. "Ran, sudah sampai kos belum? Laporannya sudah beres kan? Kabari ya kalau sudah sampai." Pesan itu dikirim sekitar tiga puluh menit yang lalu, tepat ketika aku sedang berjalan terseok-seok masuk ke dalam pagar kos.
Tanganku kembali bergetar saat memegang handphone untuk mengetik balasan. Aku mengetik kalimat yang singkat saja, "Sudah sampai kok, Sin. Ini baru selesai mandi. Laporan sudah aman semua." Aku sengaja tidak menceritakan apa yang baru saja terjadi pada diriku di Gang Merpati. Aku merasa terlalu malu dan takut untuk membagikan cerita tersebut kepada orang lain. Aku takut jika aku bercerita, Sinta akan mengasihaniku atau justru menganggap aku kurang berhati-hati karena memilih pulang malam lewat gang yang sepi. Di kota besar seperti ini, menceritakan kemalangan diri sendiri terkadang terasa seperti membuka kelemahan diri di depan orang lain.
Aku mematikan lampu kamar besar dan menyalakan lampu tidur kecil yang cahayanya berwarna kuning redup di sudut meja. Aku menaiki tempat tidur, menarik selimut kain yang tebal sampai ke batas dagu, lalu memosisikan tubuhku menyamping menghadap ke dinding tembok. Kamar kos ini biasanya terasa sangat nyaman bagiku setelah seharian lelah bekerja di kantor. Tapi malam ini, kamar yang sempit ini terasa seperti sebuah kotak pelarian tempatku bersembunyi dari ancaman yang ada di luar sana. Suara angin yang menggoyang daun pohon mangga di luar jendela kamar membuatku berulang kali membuka mata karena terkejut. Aku tidak bisa tidur nyenyak sepanjang malam. Setiap kali aku mulai memejamkan mata dan hampir tertidur, bayangan jaket hitam dan tangan yang menjulur kasar itu selalu muncul kembali secara tiba-tiba di dalam mimpiku, membuatku terbangun dengan napas terengah-engah sampai fajar mulai kelihatan dari celah gorden jendela.