Uang seratus ribu rupiah pemberian Bobby masih tersimpan rapat di dalam saku jaket hitamku. Sekitar pukul setengah dua dini hari, aku memutuskan untuk pulang ke rumah karena persediaan minuman keras di pos ronda sudah habis dan teman-teman satu per satu mulai mengantuk. Aku menaiki motor matic milik kakakku dengan perasaan yang sangat puas. Pengaruh alkohol di dalam kepalaku sudah sedikit berkurang, menyisakan rasa pegal di bagian leher dan rasa kantuk yang mulai menyerang mata. Aku mengendarai motor dengan kecepatan sedang melewati jalan-jalan kampung yang sudah sangat sepi. Hanya ada beberapa satpam perumahan yang duduk berjaga di pos depan sambil menonton televisi.
Aku memarkirkan motor di halaman samping rumahku yang berpagar bambu. Aku mematikan mesin motor dengan perlahan agar tidak menimbulkan suara bising yang bisa membuat kakak atau ibuku terbangun dari tidur mereka. Aku melangkah menuju pintu dapur yang biasanya memang sengaja tidak dikunci dari dalam oleh ibu jika aku belum pulang. Aku membuka pintu kayu tersebut dengan hati-hati, melangkah masuk ke dalam rumah yang suasananya sunyi, lalu mengunci pintunya kembali dengan pelan.
Aku berjalan menjinjit melewati ruang tengah yang lantai ubinnya terasa dingin di kakiku yang tidak memakai alas. Dari dalam kamar ibu, aku bisa mendengar suara dengkur halus yang menandakan ibu sudah tidur dengan sangat lelap sejak beberapa jam yang lalu. Aku merasa lega karena tidak harus menghadapi omelan atau pertanyaan dari ibu tentang dari mana saja aku pergi malam-malam begini. Aku langsung masuk ke dalam kamar tidurku sendiri yang terletak di bagian belakang rumah, tepat di samping gudang tempat penyimpanan barang-barang bekas.
Di dalam kamar, aku langsung melepas jaket hitam yang baunya sudah campur aduk antara asap rokok, bau knalpot, dan sisa air hujan. Aku melempar jaket itu ke atas tumpukan pakaian kotor yang ada di sudut lantai dekat lemari plastik. Aku kemudian merebahkan tubuhku di atas kasur tanpa mengganti pakaian atau mencuci kaki terlebih dahulu. Aku menatap langit-langit kamar yang catnya sudah mulai mengelupas di beberapa bagian karena rembesan air hujan dari atap yang bocor.
Tangan kiriku, tangan yang tadi aku gunakan untuk menjahili perempuan di Gang Merpati, aku letakkan di atas dahi. Ada rasa bangga yang aneh yang kembali muncul di dalam hatiku saat mengingat bagaimana Bobby dan teman-teman yang lain memuji keberanianku di pos ronda tadi. Bagi orang sepertiku, yang tidak punya pekerjaan tetap, sering dihina oleh tetangga, dan selalu dianggap tidak berguna oleh keluarga sendiri, pujian dari teman tongkrongan adalah satu-satunya hal yang bisa membuatku merasa memiliki harga diri. Aku tidak peduli bahwa harga diri yang aku dapatkan malam ini berasal dari tindakan yang merugikan dan menakutkan bagi orang lain. Di dalam dunia kecilku, yang penting adalah aku tidak dianggap sebagai seorang penakut oleh teman-teman bermainku. Dengan pikiran yang dipenuhi oleh rasa puas yang murah itu, aku akhirnya memejamkan mata dan tertidur pulas sampai matahari sudah naik tinggi keesokan harinya.