Gang Merpati

Anon1m
Chapter #8

Rani #4

Cahaya matahari pagi masuk melalui celah gorden jendela kamar kosku yang berwarna biru tua. Suara bising dari kendaraan yang lalu lalang di jalan raya depan gang terdengar bersahut-sahutan, menandakan bahwa aktivitas kota sudah dimulai kembali seperti biasa. Alarm di handphoneku berdering dengan keras tepat pukul enam pagi. Aku terbangun dengan rasa lelah yang luar biasa di sekujur tubuhku. Kepalaku terasa sangat berat dan bagian belakang leherku terasa kaku karena semalam aku hampir tidak bisa tidur sama sekali. Setiap kali aku mencoba memejamkan mata, aku langsung teringat kembali kejadian di Gang Merpati. Rasa takut itu seolah-olah masih menempel di dalam kamar ini, membuatku merasa tidak nyaman meskipun pintu kamar sudah dikunci rapat dari dalam.

Aku memaksakan diri untuk turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah kamar mandi. Ketika aku melewati cermin rias yang menggantung di dinding, aku sengaja memalingkan wajahku sendiri yang kelihatan pucat dan kusam dengan lingkaran hitam yang tebal di bawah mata. Di dalam kamar mandi, aku menyalakan keran air dan membasuh mukaku berulang kali dengan air dingin agar rasa kantuk dan pusing di kepalaku sedikit berkurang. Aku harus tetap pergi ke kantor hari ini karena dokumen audit keuangan perusahaan masih harus diserahkan kepada manajer utama pada jam sepuluh pagi nanti. Aku tidak bisa absen atau datang terlambat hanya karena masalah pribadi yang aku hadapi semalam. Di kota ini, urusan pekerjaan tidak pernah mau tahu tentang kemalangan atau trauma yang dialami oleh para pekerjanya.

Setelah selesai mandi, aku berdiri di depan lemari pakaian untuk memilih baju kerja yang akan aku pakai hari ini. Biasanya, aku suka memakai kemeja kerja yang pas di badan dan rok kain berwarna cerah agar kelihatan rapi dan segar saat bertemu dengan rekan kerja atau atasan. Tapi pagi ini, ada rasa tidak nyaman yang sangat besar di dalam hatiku saat melihat baju-baju tersebut. Aku merasa sangat risih dan takut jika ada bagian tubuhku yang menonjol atau menarik perhatian orang lain di jalan raya nanti. Akhirnya, aku memutuskan untuk mengambil sebuah kemeja flanel berukuran besar milik adik laki-lakiku yang tertinggal di kos saat dia berkunjung bulan lalu. Kemeja itu sangat longgar dan panjangnya sampai menutupi bagian pinggulku. Aku memadukannya dengan celana kain hitam yang longgar dan jilbab instan berwarna gelap yang lebar. Ketika aku bercermin setelah selesai berpakaian, aku merasa penampilanku kelihatan sangat aneh dan tidak rapi untuk ukuran seorang staf akuntansi. Namun, bagiku saat ini, pakaian longgar dan kedodoran ini satu-satunya pelindung yang bisa membuatku merasa sedikit lebih aman untuk melangkah keluar dari dalam kamar kos.

Aku memasukkan laptop kantor dan berkas-berkas penting ke dalam tas ransel, bukan tas selempang samping seperti yang aku gunakan semalam. Aku sengaja mengganti tas karena tas ransel bisa aku pakai di kedua pundak dan diletakkan di bagian depan dada saat berjalan, sebagai pembatas tambahan antara tubuhku dengan orang-orang di luar. Sebelum membuka pintu kamar, aku berdiri diam di balik daun pintu selama hampir dua menit. Aku mendengarkan suasana di luar koridor kos untuk memastikan tidak ada penghuni lain atau orang asing yang sedang berjalan di sekitar sana. Tanganku kembali terasa dingin dan basah karena keringat saat aku memutar kunci pintu dan melangkah keluar menuju ke arah parkiran kos.

Ketika aku membuka pintu pagar hijau kos dan berjalan keluar menuju ke arah stasiun kereta api, suasana di Gang Merpati sudah berubah menjadi sangat ramai. Matahari pagi yang terang membuat bayangan-bayangan gelap semalam hilang sama sekali. Tukang bubur ayam sedang melayani pembeli di depan pagar seng, beberapa ibu rumah tangga sedang berjalan pulang dari pasar sambil membawa kantong belanjaan plastik, dan anak-anak sekolah berjalan beriringan sambil bercanda riang. Keadaan gang ini kelihatan sangat normal dan damai, seolah-olah tidak pernah terjadi kejahatan apa pun di tempat ini beberapa jam yang lalu. Melihat semua keramaian yang begitu normal itu justru membuat hatiku merasa sangat sedih dan terasing. Aku menyadari bahwa dunia di sekitarku akan tetap berjalan seperti biasa, tanpa memedulikan bahwa di dalam diriku ada sesuatu yang sudah rusak dan berubah sejak semalam. Aku berjalan menunduk di sepanjang pinggiran aspal, menghindari tatapan mata dari setiap orang yang berpapasan denganku, terutama dari para pengendara motor yang melintas dari arah belakang.

Lihat selengkapnya