Aku terbangun dari tidur ketika jarum jam di dinding kamarku sudah menunjukkan pukul sebelas lewat tiga puluh menit siang. Sinar matahari yang terik masuk melalui celah-celah genteng yang bocor, langsung mengenai wajahku dan membuat mataku terasa silau. Kepalaku masih terasa agak pusing dan mulutku terasa sangat kering akibat sisa minuman keras oplosan yang aku minum semalam bersama Bobby di pos ronda. Aku meregangkan kedua tanganku ke atas, lalu duduk di pinggiran kasur yang busanya sudah mulai kempes. Perutku berbunyi karena lapar, mengingat semalam aku hanya minum alkohol tanpa menyantap makanan berat sama sekali sejak sore hari.
Aku berdiri dan melangkah keluar dari kamar menuju ke arah dapur. Rumah terasa sepi karena ibuku biasanya jam segini sedang pergi ke pasar untuk berbelanja sayuran atau mengobrol di warung depan bersama tetangga lainnya. Di atas meja makan kayu yang tua, ada piring yang ditutup dengan tudung saji plastik berwarna merah. Aku membukanya dan melihat ada beberapa potong tahu goreng dan sisa sayur lodeh yang sudah dingin. Tanpa mencuci muka atau menyikat gigi terlebih dahulu, aku langsung mengambil piring bersih, mengisinya dengan nasi putih yang agak keras dari dalam rice cooker, lalu menyantap makanan tersebut dengan lahap menggunakan tangan kananku.
Sambil mengunyah makanan, tangan kiriku merogoh saku celana untuk mengambil handphone yang aku letakkan di sana sejak semalam. Aku ingin memeriksa apakah ada pesan baru atau ajakan nongkrong lagi dari teman-teman untuk nanti sore. Aku membuka aplikasi WhatsApp dan melihat ada banyak sekali pesan masuk di grup obrolan pangkalan pos ronda. Jumlah pesan baru yang belum dibaca mencapai lebih dari lima puluh pesan, sebuah hal yang tidak biasa terjadi di siang hari yang malas seperti ini karena biasanya teman-temanku masih pada tidur atau sibuk dengan urusan masing-masing.
Aku membuka grup obrolan tersebut dan mulai membaca pesan dari atas satu per satu. Awalnya, pesan-pesan itu hanya berisi candaan biasa tentang jalannya taruhan semalam dan bagaimana lucunya ekspresiku saat menerima uang seratus ribu rupiah dari Bobby. Namun, ketika aku menggulir layar handphoneku ke arah bawah, isi percakapan mendadak berubah menjadi sangat serius dan menegangkan. Ada sebuah tautan video dari aplikasi Instagram yang dikirimkan oleh Joko ke dalam grup obrolan sekitar jam sepuluh pagi tadi. Di bawah tautan video tersebut, Joko menulis kalimat yang singkat, "Don, coba lu lihat video ini. Ini bukannya motor kakak lu yang lu pakai semalam ya? Wajah lu kelihatan samar-samar pas lewat di bawah lampu dekat warung Pak RT."
Membaca pesan dari Joko tersebut membuat potongan tahu goreng yang sedang aku kunyah di dalam mulut mendadak terasa hambar dan sulit untuk ditelan. Jantungku yang tadinya berdetak normal tiba-tiba langsung berdegup dengan sangat cepat karena rasa terkejut yang luar biasa. Tanganku yang memegang handphone mulai terasa agak lemas. Dengan perasaan yang campur aduk antara penasaran dan ketakutan, aku menyentuh tautan video tersebut untuk membukanya secara langsung. Video itu diunggah oleh sebuah akun informasi lokal yang sering membagikan kabar tentang kejadian-kejadian di sekitar wilayah tempat tinggal kami. Video itu menampilkan rekaman dari kamera CCTV milik salah satu rumah warga yang posisinya menghadap langsung ke arah mulut Gang Merpati.
Meskipun kualitas video rekaman CCTV itu agak buram dan pencahayaannya minim karena situasi semalam sedang gerimis, aku bisa melihat dengan jelas siluet motor matic berwarna hitam yang berjalan lambat tanpa menyalakan lampu utama. Di atas motor itu, ada seorang pemuda yang memakai jaket hitam dan helm hitam dengan kaca yang dinaikkan ke atas. Pemuda itu adalah aku sendiri. Walaupun wajahku tidak terlihat dengan detail karena jarak kamera yang agak jauh, pelat nomor motor matic milik kakakku yang terpasang di bagian belakang terlihat sempat memantulkan cahaya lampu jalan selama dua detik saat motor itu melesat kabur setelah kejadian. Di bawah postingan video tersebut, ada ratusan komentar yang isinya penuh dengan caci maki dan kemarahan terhadap tindakan pelaku begal payudara yang meresahkan warga sekitar. Rasa puas dan bangga yang aku rasakan semalam di pos ronda seketika menguap tanpa sisa, berganti menjadi sebuah rasa cemas yang dingin yang mulai merayap naik dari perut menuju ke dalam kepalaku.