Gang Merpati

Anon1m
Chapter #10

Rani #5

Suara roda kereta komuter yang bergesekan dengan rel besi memicu getaran di bawah kakiku. Aku berdiri di tengah gerbong yang sangat padat oleh para pekerja yang hendak pergi ke kantor masing-masing. Pagi ini, AC di dalam gerbong kereta terasa tidak berfungsi dengan baik karena jumlah penumpang yang terlalu penuh, membuat udara di dalam ruangan besi ini menjadi sangat pengap dan panas. Namun, aku tetap menolak untuk melonggarkan kemeja flanel besar yang aku pakai. Aku justru mengeratkan dekapan tas ranselku di depan dada, menggunakannya sebagai dinding pembatas agar tubuhku tidak bersentuhan langsung dengan penumpang lain yang berdiri di dekatku. Setiap kali kereta melakukan pengereman mendadak dan tubuh para penumpang terdorong ke depan, aku merasakan kecemasan yang luar biasa di dalam hatiku. Aku takut jika ada tangan orang lain yang tidak sengaja menyentuh pundak atau bagian tubuhku yang lain karena desakan di dalam gerbong.

Aku mengarahkan pandangan mataku lurus ke arah jendela kaca kereta yang ada di depanku. Kaca itu memantulkan pemandangan luar berupa deretan bangunan toko, perumahan padat, dan jalan raya yang macet oleh kendaraan roda dua. Di dalam pantulan kaca yang buram itu, aku juga bisa melihat wajahku sendiri yang terbungkus jilbab instan berwarna gelap. Mataku kelihatan sangat lelah dan merah karena kekurangan tidur semalam. Di sebelah kiriku, ada seorang pria paruh baya yang memakai jaket hitam tebal dan sedang sibuk melihat handphone miliknya. Setiap kali pria itu menggeser posisi berdirinya atau mengangkat tangannya untuk membetulkan letak kacamata, tubuhku langsung menegang secara otomatis. Pikiranku langsung menghubungkan jaket hitam yang dipakainya dengan jaket hitam yang dipakai oleh pengendara motor di Gang Merpati semalam. Aku tahu pria di sebelahku ini hanya orang asing yang tidak tahu apa-apa, tapi rasa trauma telah membuat otakku mencurigai setiap orang yang memiliki ciri-ciri fisik yang mirip dengan pelaku.

Kereta komuter akhirnya berhenti di stasiun tujuanku setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit yang terasa sangat menyiksa bagi mentalku. Aku keluar dari pintu gerbong bersama antrean penumpang lainnya yang berjalan dengan terburu-buru menuju pintu keluar stasiun. Aku melangkah menunduk, menatap anak tangga beton satu per satu tanpa berani melihat ke arah sekitar. Ketika aku sampai di area depan stasiun, beberapa pengemudi ojek online yang sedang mangkal langsung menawarkan jasa mereka dengan suara yang keras.

"Ojeknya, Mbak? Mau ke mana? Mari saya antar." kata salah satu pengemudi motor matic yang berdiri di dekat tiang listrik.

Mendengar tawaran itu dan melihat deretan motor yang berjajar di pinggir jalan membuat perutku mendadak terasa mual kembali. Rasa takut yang hebat menjalar di seluruh tubuhku. Aku menggelengkan kepala dengan cepat tanpa mengucapkan sepatah kata pun, lalu berjalan terburu-buru meninggalkan area stasiun menuju ke arah kantorku yang berjarak sekitar lima ratus meter. Biasanya, aku sangat senang berjalan kaki di trotoar jalan ini sambil menikmati udara pagi. Tapi hari ini, setiap suara raungan mesin motor yang melintas di samping trotoar membuat langkah kakiku terhenti sejenak karena terkejut. Aku merasa seolah-olah seluruh jalanan di kota ini sudah tidak aman lagi bagiku. Dunia luar yang biasanya aku hadapi dengan penuh rasa percaya diri kini telah berubah menjadi sebuah tempat yang penuh dengan ancaman yang menakutkan bagi diriku sebagai seorang wanita.

Lihat selengkapnya